Pengedar Obat Kedaluwarsa Dibekuk Polda


KORDANEWS – Polda Sumsel bersama Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Palembang mengungkap peredaran obat kedaluwarsa yang telah beroperasi selama 10 tahun di Palembang.

Tersangka yakni Hidayah alias Dayat (36), warga Lorong Nigata nomor 199, RT32/1, Kelurahan Tangga Takat, Seberang Ulu II, Palembang ini.

Dari tangan tersangka, polisi menyita 331.723 butir obat kedaluwarsa yang disimpan di gudang bekas Apotek Rakyat Bersama, Jalan Pasar 16 Ilir, Komplek Pertokoan 16 Ilir, Lantai IV Blok A Nomor 193-196, Kelurahan 16 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang milik tersangka. Obat yang kedaluwarsa bervariasi dari tujuh hingga setahun lalu.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara menjelaskan, pihaknya berhasil mengungkap peredaran obat kedaluwarsa dari razia yang dilakukan bersama BBPOM pada 26 September lalu.

Pihaknya menyita barang bukti berupa 141 kardus yang berisi 331.723 butir obat kadaluarsa. Tersangka Dayat mengakui 196.361 butir miliknya. Sedangkan sisa 135.362 butir, berdasarkan keterangan tersangka Dayat, milik tersangka M yang masih buron.

Zulkarnain berujar, modus tersangka dalam menjual obat tersebut yakni dengan dipotong menjadi kemasan kecil sehingga label kedaluwarsanya tidak terlihat dan menghapus label kedaluwarsa dengan cara menggosoknya hingga hilang.

“Sasaran konsumennya yakni masyarakat kalangan menengah ke bawah serta masyarakat yang tidak terlalu memperhatikan label kedaluwarsa. Masyarakat dapat membelinya dengan harga dibawah pasaran tanpa memerlukan resep dokter,” ujarnya.

Agar aksinya tidak diketahui aparat, Zulkarnain berujar, tersangka jarang membuka apotiknya. Namun apabila ada permintaan besar baru dibuka.

Pihaknya masih melakukan pengembangan penyidikan untuk mengetahui pasokan obat tersebut dari mana. Apakah dari dalam atau luar Palembang.

Pihaknya akan terus melakukan razia yang serupa untuk mencegah peredaran obat kedaluwarsa serta mencegah penyalahgunaan obat-obatan tersebut.

Sementara itu, tersangka Dayat mengaku telah beroperasi selama 10 tahun. Dirinya bisa meraup omset Rp200-500 ribu per hari dengan berjualan obat kedaluwarsa tersebut.

“Saya beli di M. M ini ambil barangnya ke rumah-rumah membeli obat kedaluwarsa dari warga-warga. Saya jual Rp12-15 ribu per tabletnya,” ungkap Dayat.

Dirinya berujar, apoteknya telah beroperasi sejak 2007 hingga berhenti beroperasi pasa 17 Mei 2017 lalu. Pasca ditutup, apoteknya dialihfungsikan menjadi gudang penyimpanan obat.

“Apotek saya dicabut izinnya oleh pemerintah. Saya tidak tahu apa alasannya. Sudah tiga tahun obat disimpan dan tidak pernah beli baru lagi,” jelasnya.

Dirinya bisa dengan mudah menjual kepada masyarakat karena harganya murah serta tidak memerlukan resep dokter.

Tersangka melanggar pasal 196 juncto pasal 98 ayat dua dan tiga dan atau pasal 197 junto pasal 106 undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan maksimal hukuman 15 tahun atau denda Rp1,5 miliar.

Editor: Janu

No related post!

Tinggalkan pesan