Ekonomi Sumsel Diprediksi Tumbuh Melandai

12487 Views

KORDANEWS – Kalangan ekonom menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga termasuk Sumsel akan tetap melandai dikisaran 5,1 persen hingga akhir tahun nanti. Bahkan tahun depan kondisi diprediksi tetap akan melandai.

Economist PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menilai salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi melandai karena sektor konsumsi masyarakat masih terbatas.

Tahun ini konsumsi rumah tangga hanya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi berkisar 4 persen. Akibat kondisi ini sangan sulit bagi pemerintah untuk meningkatkan penertrasi pertumbuhan ekonomi lebih besr lagi, sebab pondasi utama yang memberikan kontribusi pertumbuhan tengah bermasalah.

“Tahun ini ada fenomena yang berbeda. Konsumsi rumah tangggan yang tersendat sbetulnya bukan disebabkan masyarakat tidak mampu untuk membeli. Namun masyarakat lebih memilih untuk mengurangi belanja dan melakukan seving untuk kebutuhan investasi,” jelas Andy saat menjadi pembicara dalam acara diseminasi kajian ekonomi dan keuangan regional Provinsi Sumsel di Hotel Arista Kamis (2/11).

Menurutnya, jika berbicara masalah daya beli maka erat kaitannya dengan tiga kelompok masyarakat. Kelompok masyarakat pertama adalah menengah bawah. Kelompok ini mengalami penurunan daya beli akibat kebijakan pemerintah yang menaikkan tarif listrik dan elpiji. Untuk menstimulusnya diharapkan bisa melalui bantuan sosial dari program pemerinta.

Sementara kelompok kedua adalah masyarkat kelas menengah. Kelompok inilah yang cukup sulit untuk diberikanstimulasi perbaikan daya belinya. Sebab tidak mungkin mereka diberikan bantuan sosial seperti masyarakat miskin.

“Yang bisa dilakukan oleh pemrintah untuk membangkitkan daya belinya adalah menjaga kepastian harga. Jika flutuasi harga terlalu tinggi maka akan semakin menekan daya beli mereka,” katanya.

Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya Prof Dr Bernadette Robiani MSc, penurunan daya beli yang terjadi saa tini karena adanya penyusutan konsumsi rumah tangga. Namun menariknya ada perubahan kebiasaan masyarakat dari berbelanja ke saving. Tidak heran kebutuhan sepeti transfortasi dan komunikasi justru mengalami peningkatan yang signifikan.

“Simpelnya, pelemahan daya beli ituterjadi karena pendapatan tidak berubah sementara harga barang semuanya naik makanya terjadi pelemahan daya beli,” kata Bernadette.

Editor : mahardika

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

%d blogger menyukai ini: