Drama Penangkapan 11 Pangeran Arab Saudi, Antara Harta dan Kekuasaan

11920 Views

KORDANEWS – Akhir pekan lalu, Komite Anti Korupsi Arab Saudi menangkap 11 pangeran dan empat menteri yang diduga korupsi terkait penanganan banjir bandang di Jeddah 2009 dan virus MERS. Salah satunya adalah Pangeran Alwaleed Bin Talal.

Penangkapan Alwaleed menjadi berita besar karena ia merupakan salah satu orang terkaya dunia dan di Arab Saudi merupakan terkaya nomor wahid dengan harta US$ 17 miliar atau sekitar Rp 229,5 triliun (kurs Rp 13.500/dolar AS).

Alwaleed mungkin dikenal oleh banyak orang di seluruh dunia, tapi bukan berarti ia disukai di rumahnya sendiri. Keponakan Raja Salman ini dikenal dekat dengan Raja Arab sebelumnya, Abdullah Bin Abdulaziz, tapi sering berselisih paham dengan raja yang sekarang.

Tokoh di balik penangkapan para pangeran dan menteri ini adalah Putera Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Mohammed Bin Salman. Anak Raja Salman ini berdalih penangkapan dilakukan untuk memberantas korupsi.

Pria berumur 32 tahun ini ditunjuk langsung oleh sang raja untuk memimpin ‘KPK Arab Saudi’ beberapa jam sebelum penangkapan para tokoh dilakukan.

Mohammed dan Alwaleed statusnya sepupu, masih satu keluarga, tapi bukan berarti mereka selalu sepaham. Sehingga, banyak pihak menilai penangkapan Alwaleed oleh Mohammed ini seperti permainan unjuk kekuasaan.

Seperti dikutip dari CNBC dan detikfinance, Senin (6/11) Mohammed akan memimpin proyek masa depan Kerajaan Arab Saudi yang bernama Vision 2030 atau disebut juga National Transformation Plan.

Program ini akan mendiversifikasi kegiatan ekonomi Arab Saudi yang selama ini hanya mengandalkan minyak bumi ke sektor-sektor lain. Nah, Alwaleed yang punya bisnis di mana-mana, dikabarkan ingin mendapat peran lebih banyak dalam proyek ini.

Sayangnya, Mohammed yang tidak akur dengan Alwaleed disebut-sebut tidak setuju dengan keinginan Alwaleed ini.

Perseteruan antar pangeran Arab Saudi bukan yang pertama terjadi. Ayah Alwaleed, Pangeran Talal bin Abdulaziz menghabiskan masa hidupnya dalam pengasingan karena tidak sejalan dengan raja sebelumnya.

Talal yang dijuluki The Red Prince alias Pangeran Merah itu merupakan penggagas Free Princes Movement yang sering mengkritik kebijakan monarki Kerajaan Arab.

Editor : mahardika

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

%d blogger menyukai ini: