BNI Pertebal Kredit Perhotelan

10623 Views

KORDANEWS – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk agaknya tak ingin ketinggalan untuk memanfaatkan momentum peralihan konsumsi masyarakat ke pemenuhan kebutuhan mengisi waktu luang (leisure), seperti wisata.

Soalnya, pergeseran pola konsumsi dari barang cenderung membuat masyarakat menahan belanja pakaian, dan makanan dan minuman. Sebaliknya, masyarakat justru memilih menyimpan uang mereka agar dapat digunakan untuk makan di restoran, menginap di hotel, serta liburan ke tempat-tempat wisata.

Direktur Bisnis Menengah BNI Putratama Wahju Setyawan mengatakan, cara perusahaan mengambil keuntungan dari pergeseran itu adalah dengan menambah porsi penyaluran kredit ke sektor bisnis menengah, khususnya perhotelan dan restoran.

“Saat ini, spending (pengeluaran) lebih banyak ke leisure. Sehingga, beberapa spending yang tadinya ke barang beralih ke experience (pengalaman). Ini yang membuat kami ingin ke sektor leisure, dan experience itu,” ujarnya, Rabu (8/11).

Namun demikian, penyaluran kredit ke perhotelan tetap punya sejumlah kriteria agar tidak menambah beban ke rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL). Saat ini, NPL sektor usaha perhotelan masih mini, yaitu 0,3 persen per 8 November 2017.

“Kalau biayai hotel, kami lihat lokasi dan kelas hotelnya. Lalu, yang kami biayai yang greenfield, yang sudah ada, sudah beroperasi. Jadi, kami hanya re-financing,” katanya.

Selain itu, menurut Putratama, perusahaan pelat merah ini juga lebih berhati-hati untuk memberikan kredit kepada debitur yang kerap melakukan jual beli hotel dikarenakan potensi risikonya. Saat ini, penyaluran kredit ke sektor perhotelan dan restoran telah mencapai Rp8 triliun atau sekitar 32 persen dari total seluruh kredit segmen bisnis menengah.

Sedangkan, penyaluran kredit perhotelan dan restoran segmen korporat telah mencapai Rp17 triliun dengan rasio kredit bermasalah sebesar 1,2 persen. Sementara, untuk penyaluran kredit ke segmen bisnis menengah yang merupakan sektor perdagangan diberikan BNI dengan sangat selektif. Khususnya, perdagangan komoditas, misalnya batu bara.

Tercatat, penyaluran kredit ke sektor perdagangan sebesar Rp4 triliun atau sekitar 19 persen dari total kredit segmen bisnis menengah. NPL-nya sebesar 4 persen.

Editor : mahardika

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

%d blogger menyukai ini: