Mendadak! Nuruzzaman Mundur dari Wasekjen Gerindra


KORDANEWS – Wakil Sekjen (Wasekjen) DPP Partai Gerindra Mohammad Nuruzzaman menyatakan mundur dari kepengurusan partai. Zaman merasa kecewa dengan elite partai lantaran kelewat batas dalam berpolitik.

Zaman mengaku sudah berkirim surat kepada Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto. Dalam surat kemunduran dirinya itu, Zaman juga mengutarakan unek-uneknya sejak menjadi kader Gerindra pada 2014.

“Partai Gerindra ternyata belok menjadi sebuah kendaraan kepentingan yang bukan lagi berkarakter pada kepedulian dan keberanian, tapi berubah menjadi mesin rapuh yang hanya mengejar kepentingan saja,” ujar Zaman dilansir melalui keterangannya kepada Medcom.id.

Zaman tak kuasa membendung amarahnya. Manuver Gerindra saat ini dinilai terlalu patriotik dan lebih menjadi corong kebencian yang mengamplifikasi kepentingan politik praktis. Nilai Indonesia Raya, kata dia, telah hilang di setiap kader partai.

“Makin parah lagi, pengurus Gerindra makin liar ikut menari pada isu SARA di kampanye Pilkada DKI di mana saya merasa sangat berat untuk melangkah berjuang karena isi perjuangan Gerindra hanya untuk kepentingan elitenya saja sambil terus menerus menyerang penguasa dengan tanpa data yang akurat,” ungkapnya.

Zaman mengaku sudah berniat untuk mundur dari Gerindra pada Desember 2017. Ia menganggap isu SARA sudah melampaui batas, ditambah kontribusi elite Gerindra yang haus kekuasaan tanpa peduli pada rakyat.

“Hari ini, 12 Juni 2018, saya marah. Kemarahan saya memuncak karena hinaan saudara Fadli Zon kepada kiai saya, KH Yahya Cholil Staquf terkait acara di Israel yang diramaikan dan dibelokkan menjadi hal politis terkait isu ganti Presiden,” bebernya.

Bagi santri, kata Zaman, penghinaan pada kiai adalah tentang harga diri dan muruah. Keputusan mengundurkan diri Zaman dilakukan lantaran elite Partai Gerindra yang dinilai hanya memikirkan kekuasaan.

Baca Juga :   KPU OKI Terima 491.667 Surat Suara Pilkada

“Saya Mohammad Nuruzzaman, kader Gerindra, hari ini mundur dari Partai Gerindra dan saya pastikan, saya akan berjuang untuk melawan Gerindra dan elite busuknya sampai kapan pun,” tegasnya.

Dihubungi terpisah, Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria mengaku tak aneh dengan kader yang memutuskan mundur maupun berpindah partai. DPP Gerindra bakal merelakan kadernya untuk menentukan pilihan terbaik.

“Kalau ada pengurus, kader mudur dari satu partai atau pindah ke partai lain, sekarang di Indonesia ini sudah biasa, lumrah. Sudah banyak kader yang orang bilang kutu loncat, sudah biasa itu. Kalau ada orang yang berpindah-pindah partai, sekarang ini di era demokrasi ini apalagi di Indoensia sudah biasa, karena orang punya latar belakang punya pilihan berdasarkan keyakinan dan pendapatnya masing masing,” kata Riza.

Riza enggan berpolemik saat kader partainya berbeda arah pandangan. Beragam alasan dari kadernya mundur pun dianggap hal yang biasa. Terlebih, kata dia, jelang pencalonan pemilihan legisatalif seluruh kader partai tengah bersaing mencari posisi.

“Jelang pileg ini pasti banyak ini pindah-pindah partai, silakan saja saya tidak mau ungkap alasannya orang pindah atau keluar partai. Bukan sesuatu yang luar biasa, kita secara bijak, secara baik, secara dewasa, nanti waktu yang akan menentukan, membuktikan dan memperlihatkan apa yang menjadi pilihan setiap orang itu,” pungkasnya.(net)

Editor : mahardika

politik

Posting Terkait

Tinggalkan pesan