KORDANEWS – Asap tipis mengepul dari tungku arang yang menyala merah membara. Di antara suara logam yang beradu dan hembusan udara dari blower, sepasang tangan cekatan memutar besi pijar, memukulnya dengan irama yang tak berubah sejak ratusan tahun lalu. Inilah wajah asli Desa Limbang Jaya II di Kecamatan Tanjung Batu, Ogan Ilir, desa yang tak pernah benar-benar tidur dari suara besi yang ditempa.
Sejak pagi buta, Faisal (45), seorang pandai besi setempat, sudah berdiri di hadapan tungku besarnya. Ditemani seorang rekan, ia mengubah potongan besi tak berbentuk menjadi alat pertanian yang menjadi andalan masyarakat pedesaan: egrek, parang, celurit, hingga pisau.
“Kalau sudah merah membara seperti ini, tandanya besi siap ditempa,” kata Faisal sambil mengeluarkan sepotong besi dari tungku. Tangan dan tubuhnya menyatu dengan gerak, seperti tarian tradisi yang diwarisi dari para leluhur. Ia memotong, memanaskan ulang, lalu menempanya berkali-kali hingga besi mulai menuruti kehendaknya.
Di desa ini, produksi alat tajam bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah denyut sejarah. Hampir setiap rumah mengenal panasnya bara, beratnya palu, dan dinginnya logam yang mengeras. Sebagian besar penduduk di Limbang Jaya II memang sudah turun-temurun menjadi pandai besi, bahkan sejak masa penjajahan.
Dalam sehari, seorang pengrajin seperti Faisal bisa menghasilkan 15 hingga 20 bilah alat tajam. Meski prosesnya seragam – membakar, menempa, menghaluskan, lalu menyepuh , setiap bilah memiliki cerita sendiri.
“Yang menentukan kualitas itu ya sepuhnya. Kalau terlalu cepat, besi bisa rapuh. Tapi kalau cukup lama, mata parangnya bisa tahan bertahun-tahun,” ujar Faisal sembari menunjukkan deretan egrek yang telah selesai dan siap dipasarkan.













