KORDANEWS – Setelah terpisah dari tanah asalnya selama lebih dari satu abad, permata kuno peninggalan Buddha akhirnya kembali diperlihatkan kepada publik India. Artefak bersejarah yang dikenal sebagai relik Piprahwa itu kini dipamerkan dalam sebuah pameran budaya di New Delhi, menandai berakhirnya perjalanan panjang selama 127 tahun.
Permata-permata tersebut pertama kali ditemukan pada 1898 di Piprahwa, Uttar Pradesh, di sebuah stupa kuno yang diyakini berkaitan langsung dengan relik jasmani Buddha. Temuan itu mencakup ratusan batu mulia—emas, kristal, dan permata berwarna—yang disimpan dalam wadah ritual dan dilengkapi prasasti kuno berbahasa Brahmi.
Bagi dunia Buddhis, artefak Piprahwa bukan sekadar peninggalan arkeologis. Ia dipandang sebagai simbol spiritual yang merepresentasikan fase awal penyebaran ajaran Buddha. Namun sejak masa kolonial Inggris, sebagian koleksi tersebut berada di luar India dan tidak pernah ditampilkan secara luas di negara asalnya.
Selama puluhan tahun, permata itu berpindah tangan secara terbatas dan tersimpan dalam koleksi pribadi di luar negeri. Baru pada 2025, perhatian publik kembali tertuju pada relik Piprahwa ketika rencana lelang internasional memicu perdebatan global mengenai kepemilikan dan etika perdagangan artefak suci.
Pemerintah India kemudian menegaskan bahwa relik tersebut merupakan warisan budaya dan spiritual, bukan komoditas. Melalui kerja sama dengan sektor swasta dan pendekatan diplomasi budaya, koleksi permata itu akhirnya berhasil dikembalikan dan dipamerkan kembali di tanah kelahirannya.
Pameran bertajuk “The Light and The Lotus” menampilkan permata Piprahwa bersama artefak Buddha lainnya dari berbagai periode. Tidak hanya memamerkan benda, pameran ini juga menyajikan narasi sejarah—mulai dari penggalian abad ke-19, perjalanan artefak selama masa kolonial, hingga makna filosofis ajaran Buddha.
Kurator pameran menyebut kehadiran kembali relik Piprahwa sebagai upaya menyambung ingatan sejarah yang sempat terputus. Bagi generasi muda India, pameran ini menjadi pengingat bahwa ajaran Buddha tumbuh dari lanskap budaya dan spiritual India sebelum menyebar ke Asia dan dunia.
Respons komunitas Buddha internasional terhadap pameran ini pun positif. Banyak yang melihatnya sebagai langkah penting dalam menghormati nilai sakral artefak keagamaan, sekaligus contoh bagaimana warisan budaya dapat dipulihkan tanpa konflik.
Pameran ini dijadwalkan berlangsung selama beberapa pekan sebelum artefak dipindahkan ke museum nasional untuk konservasi jangka panjang.
Lebih dari sekadar pameran, kembalinya permata Piprahwa menjadi simbol rekonsiliasi sejarah—antara masa lalu kolonial, identitas budaya, dan tanggung jawab generasi kini dalam menjaga warisan peradaban.













