Frustrasi soal Transfer Pemain
Masalah lain yang mempercepat kejatuhan Amorim adalah kebijakan transfer. Sang pelatih dikabarkan tidak sepenuhnya dilibatkan dalam proses rekrutmen pemain. Beberapa pemain yang didatangkan klub dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan taktiknya.
Amorim disebut menginginkan pemain dengan karakter spesifik untuk mendukung sistem tiga bek, namun manajemen lebih mengutamakan opsi jangka panjang dan nilai ekonomi. Perbedaan visi ini membuat Amorim frustrasi dan merasa tidak mendapat dukungan penuh.
Situasi tersebut semakin memperlemah posisinya ketika hasil di lapangan tak kunjung membaik.
Hasil Buruk dan Tekanan Publik
Di atas semua itu, hasil pertandingan menjadi faktor penentu. Manchester United gagal menunjukkan performa yang meyakinkan di liga, sering kehilangan poin dari tim papan tengah dan bawah.
Tekanan dari suporter dan media semakin besar, terutama ketika United tampil tanpa identitas permainan yang jelas. Manajemen akhirnya menilai perubahan pelatih sebagai langkah yang tak terhindarkan demi menyelamatkan musim.











