KORDANEWS – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 H yang diprediksi jatuh pada awal Maret 2026, jutaan umat Muslim mulai mempersiapkan diri. Salah satu rukun puasa yang tidak boleh terlewatkan adalah niat. Tanpa niat yang benar, puasa seseorang bisa dianggap tidak sah secara syariat.
Namun, niat bukan sekadar hafalan lisan. Ada esensi spiritual dan teknis yang perlu dipahami agar ibadah menjadi sempurna.
Mengapa Niat Harus “Diinapkan”?
Dalam literatur fiqih klasik, terdapat konsep Tabyit, yaitu kewajiban menghadirkan niat di malam hari sebelum fajar menyingsing. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa siapa yang tidak menetapkan niat sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.
Oleh karena itu, momen sahur menjadi waktu yang sangat krusial. Selain sebagai bekal fisik, sahur adalah benteng terakhir untuk memastikan niat telah tertanam di dalam jiwa sebelum memulai ibadah seharian penuh.
Dinamika Niat: Harian vs Sebulan Penuh
Terjadi diskusi menarik di kalangan ulama mengenai frekuensi niat. Mayoritas ulama (Jumhur) mewajibkan niat dilakukan setiap malam. Namun, Imam Malik memberikan kemudahan dengan membolehkan niat satu bulan penuh di malam pertama Ramadan.
Para ulama di Indonesia seringkali menyarankan umat untuk melakukan keduanya: membaca niat sebulan penuh di malam pertama sebagai “asuransi” spiritual, namun tetap rutin membaca niat harian setiap kali selesai tarawih atau saat sahur.
Niat Puasa Ramadan (Harian)
Niat ini dibaca setiap malam setelah salat Tarawih atau saat menyantap sahur sebelum waktu Subuh tiba.
Teks Arab:















