KORDANEWS – Bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, momen sahur adalah waktu krusial untuk mengisi energi. Namun, pernahkah Anda merasa justru badan terasa sangat lemas, kepala berat, dan mata sulit diajak kompromi tepat setelah menyantap hidangan sahur?
Kondisi ini sering kali dianggap wajar karena faktor kurang tidur. Padahal, secara medis, rasa lemas setelah makan sahur berkaitan erat dengan apa yang kita konsumsi dan bagaimana tubuh bereaksi terhadap asupan tersebut.
Fenomena Sugar Crash dan Nasi Putih
Penyebab utama rasa lemas yang mendadak adalah lonjakan kadar gula darah. Banyak dari kita yang memilih menu sahur tinggi karbohidrat sederhana, seperti nasi putih porsi besar atau mi instan, ditambah minuman manis.
Menurut para ahli gizi, karbohidrat sederhana dicerna sangat cepat oleh tubuh. Hal ini memicu pankreas melepaskan hormon insulin dalam jumlah besar secara mendadak. Akibatnya, kadar gula darah yang tadinya melonjak tinggi akan turun drastis dalam waktu singkat—fenomena ini disebut sebagai Sugar Crash. Efeknya? Badan terasa lunglai dan energi seolah tersedot habis sebelum matahari terbit.
Aliran Darah Terpusat di Perut
Selain urusan gula darah, ada kondisi yang disebut Postprandial Somnolence. Saat kita makan dalam jumlah banyak saat sahur, tubuh akan mengalihkan sebagian besar aliran darah dan energi ke sistem pencernaan untuk mengolah makanan tersebut.
Hal ini menyebabkan aliran darah ke otak sedikit berkurang, yang kemudian memicu rasa kantuk dan tubuh yang terasa “berat”. Semakin berat makanan yang Anda konsumsi (seperti gorengan atau makanan berlemak tinggi), semakin lama pula proses pencernaan berlangsung, sehingga rasa lemas bertahan lebih lama.















