3. Instabilitas Sendi dan Kerusakan Ligamen
Bunyi “pop” saat dikretek sebenarnya berasal dari pecahnya gelembung gas nitrogen dalam cairan sendi (sinovial), bukan tulang yang bergeser.
- Bahaya Jangka Panjang: Jika terlalu sering dilakukan (ketagihan kretek sendiri), ligamen yang menjaga kestabilan sendi akan menjadi kendur atau “melar”.
- Dampak: Sendi menjadi tidak stabil, mudah bergeser (dislokasi), dan mempercepat terjadinya osteoartritis (pengapuran sendi) di usia muda.
4. Risiko Patah Tulang bagi Penderita Osteoporosis
Bagi mereka yang memiliki kepadatan tulang rendah (seringkali tidak disadari), tekanan kuat saat melakukan gerakan kretek tulang bisa menyebabkan patah tulang rusuk atau retak pada ruas tulang belakang. Kondisi ini sangat fatal karena bisa menusuk organ dalam atau merusak sumsum tulang belakang.
Pesan Medis: Jangan Jadikan Tulang Sebagai Bahan Percobaan
Praktisi kesehatan menekankan bahwa tindakan manipulasi tulang belakang harus dilakukan oleh ahli yang memiliki izin medis resmi dan biasanya didahului dengan hasil pemeriksaan rontgen atau MRI untuk melihat kondisi tulang pasien.
“Jangan hanya karena ingin viral atau mencari sensasi lega sesaat, Anda mempertaruhkan fungsi saraf Anda,” tegas salah satu dokter spesialis saraf. Jika Anda merasakan nyeri sendi atau tulang, sangat disarankan untuk melakukan fisioterapi atau berkonsultasi ke dokter ortopedi daripada mendatangi praktik “kretek” pinggir jalan yang tidak jelas sertifikasinya.















