KORDANEWS – Bagi sebagian orang, datangnya musim bunga atau transisi cuaca bukan hanya soal pemandangan yang indah, melainkan awal dari perjuangan melawan bersin yang tak kunjung usai. Alergi serbuk sari, atau yang secara medis dikenal sebagai hay fever (rinitis alergi), kini menjadi perhatian serius seiring dengan perubahan pola iklim yang memperpanjang masa penyerbukan tanaman.
Mengenali Gejala: Bukan Sekadar Flu Biasa
Seringkali masyarakat keliru membedakan antara flu biasa dengan alergi serbuk sari. Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengidentifikasi serbuk sari yang halus sebagai ancaman berbahaya, lalu melepaskan zat kimia bernama histamin ke dalam aliran darah.
Gejala khas yang perlu Anda waspadai meliputi bersin berulang kali, hidung meler atau tersumbat, serta mata yang terasa gatal, merah, dan berair. Berbeda dengan flu yang biasanya disertai demam atau nyeri otot, gejala alergi serbuk sari cenderung menetap selama partikel tersebut masih berada di udara di sekitar Anda.
Pemicu Utama: Partikel yang Tak Terlihat
Serbuk sari yang memicu alergi biasanya berasal dari rumput, pepohonan, dan gulma. Partikel ini sangat ringan dan kecil sehingga mudah terbawa angin hingga berkilo-kilometer jauhnya. Di wilayah tropis seperti Indonesia, konsentrasi serbuk sari seringkali meningkat pada pagi hari yang kering dan berangin, serta setelah hujan reda di mana partikel yang menempel di tanah kembali beterbangan saat mengering.




