[contact-form][contact-field label=”Name” type=”name” required=”true” /][contact-field label=”Email” type=”email” required=”true” /][contact-field label=”Website” type=”url” /][contact-field label=”Message” type=”textarea” /][/contact-form]
KORDANEWS – Awan yang terbentuk akibat asap kebakaran hutan di Australia dilaporkan sudah terlihat Samudra Pasifik Selatan bergerak mendekati Chile dan Argentina. Menurut pantauan petugas badan meteorologi di kedua negara, awan itu berada sekitar 12,000 kilometer dari kedua negara.
Seperti dilansir AFP, Selasa (7/1), Kepala Badan Meteorologi Chile, Patricio Urra, menyatakan awan akibat asap itu berada pada ketinggian 6,000 meter di atas permukaan laut. Dia mengatakan awan asap itu kemungkinan besar tidak bakal turun kembali.
“Dampak yang bisa kita lihat adalah cahaya matahari terlihat kemerahan. Hal ini hanya terjadi jika cahaya matahari terhalang asap akibat kebakaran hutan,” kata Urra.
Meski demikian, Urra menyatakan awan itu tidak mengancam warga Chile.
Sedangkan Badan Meteorologi Argentina memperlihatkan hasil citra satelit mengenai pergerakan awan asap karhutla. Menurut mereka, awan itu mulai bergerak dari arah barat ke timur.
Mereka juga membenarkan awan asap tersebut menyebabkan sinar matahari menjadi kemerahan. Menurut badan meteorologi Brasil, Metsil, awan itu diperkirakan bisa mencapai Negara Bagian Rio Grande del Sur.
Karhutla Australia terjadi sejak September 2019 sampai saat ini tercatat sudah menewaskan 25 orang, dan menghanguskan lebih dari 1,000 bangunan. Selain itu, diperkirakan sebesar 5,5 juta hektare lahan hangus dilahap si jago merah.
Kebakaran hutan memang lazim terjadi di Australia ketika memasuki musim panas. Namun, dampak yang terjadi pada tahun ini dianggap sangat luas dan semakin membahayakan kehidupan manusia dan satwa.













