PeristiwaPolitik

Aneksasi dan Nafsu Politik Netanyahu”Tepi Barat”

×

Aneksasi dan Nafsu Politik Netanyahu”Tepi Barat”

Share this article

Akan tetapi, Netanyahu bisa melanjutkan rencananya dengan berlindung di balik tabir pandemi virus corona. Sebab, saat ini perhatian negara lain, bahkan yang menjadi seteru mereka, tengah terpecah dalam menangani wabah Covid-19.

Meski begitu, muncul kecurigaan hal ini sengaja dijadikan umpan oleh Netanyahu untuk meraih kekuasaan, guna melindungi dirinya karena tersangkut sejumlah perkara korupsi. Bahkan ada penilaian bahwa Netanyahu sengaja membiarkan wacana itu bergulir dan berharap ada sebuah hambatan besar yang membuat rencana itu batal di menit terakhir.

Jika hal itu terjadi maka Netanyahu masih bisa tetap berkuasa dan menggunakannya sebagai tameng dari proses peradilan. Meski begitu, bukan berarti posisinya tidak bakal terusik. Kelompok oposisi di Israel kemungkinan juga tidak akan tinggal diam.

Seteru Netanyahu yang kini didapuk menjadi Menhan dan akan berbagi masa kepemimpinan sebagai PM, Benny Gantz, serta Menteri Luar Negeri Gabi Ashkenazi nampaknya juga tidak sepenuhnya mendukung rencana aneksasi. Sebagai mantan jenderal mereka juga memahami peta risiko dan harga yang harus dibayar jika hal itu dilakukan.

Bahkan mendiang perdana menteri Ariel Sharon yang dikenal sebagai seorang garis keras saja menolak gagasan tersebut di masa lalu.

Peta politik di Timur Tengah juga perlahan berubah. Pengaruh Iran, Rusia dan Turki yang menjadi seteru Israel, semakin meluas. Tentara Rusia dan Iran yang disiagakan di Suriah, atau milisi binaan mereka, Hizbullah, yang berada di Libanon, bisa segera dikerahkan untuk meluncurkan serangan jika Netanyahu nekat melanjutkan rencana itu.

Apalagi jika bangsa Palestina menyatakan perang dan terjadi gerakan intifadah seperti di masa lalu. Hal itu tentu akan merembet ke seluruh dunia.

Sebab negara-negara di sekitar Israel seperti Arab Saudi, Iran, Qatar dan Kuwait adalah pemasok sebagian besar cadangan energi di sejumlah negara.

Jika rantai pasokan terganggu akibat perang, maka tentu saja dalam hitungan hari atau pekan bisa dipastikan bakal ada efek berantai yang bisa memicu kekacauan.

Presiden Palestina, Mahmud Abbas, memutuskan seluruh perjanjian dengan Israel dan sudah mewanti supaya Netanyahu tidak melanjutkan rencana tersebut.

Sher pesimis jika pencaplokan Tepi Barat terjadi bakal menguntungkan Israel. Malah dia meyakini jika hal itu dilakukan maka akan membawa Israel mundur ke masa-masa sulit.

“Pencaplokan sepihak, seberapapun besar wilayahnya, adalah strategi yang keliru bagi Israel. Keliru secara politik, diplomasi, ekonomi dan pertahanan. Dengan membuat wacana pencaplokan untuk meneguhkan kedaulatan dan kepentingan pertahanan hanya upaya manipulasi,” ujar Sher.

Editor: John.W

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *