Fokus pada Corpus Callosum
Secara khusus, studi saat ini berfokus pada corpus callosum. Ini merupakan saluran tebal materi putih yang menghubungkan dua belahan di otak. Para peneliti fokus di sini karena mereka percaya bahwa pemain drum punya kemampuan membuka lintasan motorik kedua belahan itu.
Mengapa demikian? Ini karena ketika bermain drum keaktifan tangan mereka terkait dengan fungsi penghambatan corpus callosum. Seperti yang diharapkan, ada perbedaan dalam struktur corpus callosum antara orang yang bisa dan biasa bermain drum dengan kelompok yang tidak.
Para ilmuwan menemukan bahwa corpus callosum pada drumer memiliki tingkat difusi (penyebaran) yang lebih tinggi daripada yang tidak bermain drum. Terutama di bagian depan. Sebenarnya, secara klinis, tingkat difusi yang lebih tinggi dalam corpus callosum dianggap bukan pertanda baik.
Tingkat difusi tinggi biasanya menyiratkan kehilangan atau kerusakan materi putih, seperti terlihat pada orang dengan multiple sclerosis. Akan tetapi, karena partisipan ini masih muda dan sehat, penemuan ini membutuhkan penjelasan yang berbeda.
Dikutip dari Klikdokter.com,Para peneliti percaya bahwa corpus callosum anterior pada pemain drum mengandung lebih sedikit serat. Namun, serat ini lebih tebal daripada yang tidak bisa bermain drum. Ini penting karena impuls transfer serat lebih efektif ketika serat lebih tebal. Mereka juga meyakini bahwa pemain drum profesional dikaitkan dengan desain saraf yang lebih efisien dibandingkan yang tidak bermain drum.
Bermain drum ternyata dapat berdampak positif pada otak Anda. Oleh sebab itu, Anda yang saat ini sudah bisa bermain drum, berbahagialah. Bagi yang belum, tidak ada salahnya kok Anda belajar mulai sekarang. Selain main musik bisa bikin rileks, Anda bisa sekalian menyalurkan bakat. Berminat mencoba?
Editor :John.W













