“Umur aku ni la 70 tahun pak, aku tau nian keadaan desa Gedungburuk ini, la 2 tahun belakangan ini terjadinya longsor bantaran sungai Meriak. Apolagi tiap hari 4 sampai 10 tugboat batubara melintas disini. Dan ini sebagai salah satu penyebab lebih cepatnya terjadinya proses longsornya tanah di sepanjang bantaran sungai meriak. Dan tikungan sungai ini paling rawan terjadinya musibah kecelakaan tugboat, sudah 2 kali merobohkan jembatan kayu milik warga dan kejadian terakhir malah merobohkan salah satu rumah milik warga”.Jelas Aswan merincikan beberapa musibah yang ditimbulkan terkait aktivitas tugboat pengangkutan batubara sejumlah perusahaan yg melintas di sungai desanya.
“Sepeser katek bantuan pak, padahal kami sangat mengharapkan bantuan agar kami bisa pindah ke tempat yang lebih aman, dan soal tanah kepunyaan kami ini kami serahkan sebagai pengganti ke tempat pindah tersebut, dan kami sebagai warga siap untuk memindahkan rumah kami dengan warga yang terdampak lainya”.tandas Aswan sambil mengungkapkan kekecewaan terkait tidak adanya kepedulian sejumlah perusahaan transportasi batubara terhadap musibah tanah longsor ini.
Menanggapi keluhan dan keinginan 7 warganya, Kepala Desa Gedung Buruk kecamatan muara belido kabupaten muara, Saparudin, menjelaskan akan menyampaikan keluhan tersebut kepada dinas terkait dan juga terhadap sejumlah perusahaan transportasi. Batubara.
Turut hadir dalam pemeriksaan pasca longsor tersebut, Dinas PUPR, Dinas Perhubungan, Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Bagian Administrasi dan Pembangunan Setda Muara enim, BPBD, perwakilan kecamatan serta sejumlah warga desa Gedung Buruk kecamatan Muarabelido kabupaten Muaraenim Sumsel.
Editor : Chandra.













