Apakah perilaku tersebut baik? Tentu saja tidak. Pasalnya, pola makan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan penumpukan lemak di dalam tubuh. Semakin banyak lemak yang menumpuk, risiko terjadinya kolesterol tinggi akan semakin meningkat. Ujung dari masalah ini adalah penyakit jantung dan stroke.
Prestasi di sekolah rendah
Tahukah Anda bahwa keseringan makan junk food bisa menurunkan fungsi kognitif anak? Efek ini ada karena makanan cepat saji tidak bisa memasok gizi yang cukup untuk dijadikan otak untuk berkembang.
Atas dasar itu, anak yang sering makan junk food cenderung memiliki prestasi yang lebih rendah di sekolah
Kebutaan
Anak yang sering makan junk food bahkan bisa mengalami gangguan penglihatan yang berujung pada kebutaan. Menurut dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, junk food secara perlahan mampu memengaruhi sistem jaringan tubuh, termasuk saraf mata anak.
Seperti telah disinggung sebelumnya, jenis makanan ini tidak memberikan asupan vitamin dan mineral yang cukup. Sebagai akibatnya, tubuh tidak akan bekerja dengan optimal. Jika kondisi ini terjadi pada mata, kehilangan penglihatan atau buta bisa saja terjadi.
“Anak yang makan junk food berisiko lebih tinggi untuk mengalami neuropati optik. Kondisi ini diartikan sebagai peradangan pada saraf mata akibat kekurangan vitamin dan gizi. Komplikasi paling parah dari neuropati optik adalah kehilangan penglihatan alias buta,” ungkap dr. Karin.
Konsumsi makanan cepat saji tidak membawa keuntungan sama sekali selain membuat perut kenyang. Dengan harga yang relatif mahal, makanan ini bahkan bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Maka dari itu, pastikan Anda tidak lagi memberikan jenis makanan ini pada si buah hati.
Editor : John.W













