Baik Blue Origin dan Dynetics protes dan diajukan Government Accountability Office (GAO) kurang dari dua minggu setelah penetapan kontrak.
Dalam protes yang berisi 175 halaman itu kedua perusahaan menuding NASA belum mengevaluasi tawaran mereka dengan benar, dan mendorong badan antariksa itu untuk mempertimbangkan kembali.
Pemerintah memiliki waktu 100 hari hingga 4 Agustus 2021 untuk memutuskan apakah protes itu diterima.
Jatuhnya putusan kontrak semacam itu merupakan hal biasa, terlebih di industri kedirgantaraan di mana NASA dan militer AS adalah pelanggan utama pembuat roket. Kekalahan lelang juga akan berdampak besar pada laba perusahaan.
Dikutip The Verge, NASA mengumumkan keputusannya untuk memilih sistem roket Starship SpaceX pada 16 April 2021. NASA menggarisbawahi biaya yang diusulkan dan kapasitas kargo pesawat ruang angkasa sebagai alasan utama untuk mengalahkan Blue Origin dan Dynetics.
Di bawah kontrak tersebut, Starship milik SpaceX akan menerbangkan dua misi demonstrasi, satu misi uji coba tanpa awak ke permukaan bulan, dan misi lain yang membawa manusia sekitar tahun 2024.
“NASA telah mengeksekusi akuisisi yang cacat terkait program Human Landing System dan memindahkan tujuan pada menit terakhir. Keputusan NASA sangat berisiko,” kata Blue Origin.
Editor : John.W













