“Selama ini kita abai sehingga ini tumbuh alamiah saja. Padahal dulu di setiap tayangan berita di televisi menyajikan juga bahasa isyarat dan sempat redup.. Alhamdulillah sekarang melalui event ini bisa dihidupkan lagi,” jelasnya.
Untuk itu Ia menyampaikan apresiasi pada Duta Literasi Sumsel, Samsat IV Palembang, Kepolisian Daerah dan sejumlah tokoh yang menginspirasi dan telah memberikan layanan khusus yang prima kepada para teman-teman tuli.
“Saya tahu ini tidak mudah, teruslah pelopori kegiatan seperti ini sampai ke penjuru Sumsel agar hak-hak teman-teman tuli dapat terpenuhi seperti yang lainnya,” tambah Herman Deru.
Mengutip quote Mahatma ghandi, Herman Deru berpesan kepada semua yang hadir dan yang memperoleh penghargaan agar terus bergerak melangkah dan terus maju meskipun bisa berhasil atau tidak.
“Meskipun kita tahu hal itu bisa berhasil dan bisa juga tidak berhasil. Tapi kalau kita tidak bergerak kita tidak ada pilihan karena pasti tidak akan ada hasil,” jelasnya.
Lenih jauh Herman Deru juga mengatakan, setiap tanggal 23 bulan September, diperingati dunia sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional ( HBII ). Peringatan ini sebagai salah satu momentum melindungi serta mendukung identitas linguistik dan keragaman budaya tuli, serta pengguna bahasa isyarat lainnya.
Peringatan Hari Bahasa Isyarat ini bertujuan agar para difabel khususnya tuli mendapatkan hak yang sama seperti yang lainnya. Salah satunya hak mendapatkan informasi dan komunikasi dari dan dengan orang lain.
Pada peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional, federasi tuli sedunia mengeluarkan tantangan pemimpin global ( global leaders challenge ) . Tantangan ini bertujuan untuk mempromosikan penggunaan bahasa isyarat oleh para pemimpin lokal , nasional, dan global dalam kemitraan dengan asosiasi nasional bagi tuli di setiap negara, serta organisasi yang dipimpin oleh tuli lainnya.
“Ini menjadi tantangan kita bersama,” tutupnya.
Adapun kegiatan peringatan tersebut diisi dengan berbagai kegiatan. Selain penampilan menyanyi menggunakan bahasa isyarat, ada juga penampilan pantomin serta diisi juga dengan penyerahan penghargaan kepada 17 penerima baik kepada individu maupun institusi.
Di antaranya Penghargaan kepada Grab Palembang untuk kategori pendukung kelas bahasa isyarat di Sumsel, Universitas Bina Dharma sebagai pelopor bahasa isyarat pada perguruan tinggi, Polda Sumsel untuk Kategori Pelayanan Informasi Publik Ramah Tuli, UPT Badan Samsat I dan IV Palembang Kategori pendukung penyelenggara kelas bahasa isyarat di Sumsel, Biro Humas dan Protokol kategori pelayanan informasi publik ramah tuli, Duta Literasi Sumsel Ratu Tenny Leriva sebagai pelopor gerakan literasi bahasa isyarat, Derga Karenza Pelopor Sistem Pelayanan, Dr. Hj. Ratu Mutialela C kategori pelopor kelas bahasa isyarat goes to campus, dan Hj Samantha Tivani pelopor penggunaan bahasa isyarat untuk pelayanan pada UMKM.
Editor : Admin.













