Dijelaskan perusahaan binaannya juga telah menetapkan peta risiko kebakaran (fire risk map), yaitu peta untuk menentukan tinggi-rendah risiko saat terjadi kebakaran dengan penyangga (buffer) 5 kilo meter (km) dari konsesi perusahaan.
“Sejak Februari 2016, Wilmar telah bergabung dalam Fire Free Alliance (FFA) bersama beberapa perusahaan lainnya, yaitu APRIL, Asian Agri, Musim Mas, Sime Darby, IOI Corporation Berhard serta lembaga sosial masyarakat IDH (The Sustainable Trade Initiative) dan PM Haze. FFA merupakan kelompok multi-stakeholder yang berinisiatif dalam pengendalian masalah kabut asap dan kebakaran yang terjadi di Indonesia,” jelasnya.
Dilokasi yang sama Pj Gubernur Sumsel, Agus Fathoni mengatakan semua pihak perlu terlibat aktif dalam pengendalian karhutla. Salah satu pihak yang diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya tersebut adalah perusahaan.
Diantaranya dengan dengan memberikan bantuan dan sumbangan. Dukungan itu akan dimanfaatkan untuk penambahan pasukan dan program lainnya. Dia juga mengapresiasi upaya perusahaan yang selama ini aktif melakukan pencegahan di sekitar wilayah operasionalnya.
Selama ini juga diketahui, perusahaan sudah bergerak sendiri. Jadi sudah banyak di lingkungannya masing-masing mengamankan dan melakukan penanganan terhadap pengendalian Karhutla,”
“Alhamdulillah responnya cukup baik. Ini juga akan ada bantuan-bantuan sesuai dengan kondisi perusahaan masing-masing,” kata Fathoni.
Menurut Pangdam II Sriwijaya, Mayjend TNI Yanuar Adil jika pengendalian karhutla perlu dilakukan bersama-sama, mengingat tahun ini peristiwa tersebut telah terjadi berkepanjangan.
Hal itu diduga terkait dengan siklus karhutla empat tahunan yang terjadi di Tanah Air.
“Bantuan dari perusahaan diharapkan dapat menambah sarana dan prasarana yang akan digunakan dalam pengendalian,” ujar Yanuar.
Editor : Admin.













