Siapkan belerang, alat pengempos (biasanya berupa tabung gas atau alat khusus), korek api, dan sarung tangan pelindung. Pastikan semua alat dalam kondisi baik dan siap digunakan.
“Cari dan identifikasi lubang-lubang tikus di lahan yang akan diempos. Tandai lubang-lubang tersebut agar mudah ditemukan kembali. Masukkan belerang ke dalam alat pengempos. Nyalakan belerang dengan korek api hingga menghasilkan asap,” terangnya.
Lalu masukkan ujung alat pengempos ke dalam lubang tikus dan biarkan asap masuk ke dalam lubang. Tutup lubang dengan tanah atau bahan lain untuk memastikan asap tidak keluar dan tikus terperangkap di dalam.
Pantau lubang-lubang yang telah diempos untuk memastikan tidak ada tikus yang keluar. Ulangi proses pengemposan jika masih ada tanda-tanda keberadaan tikus.
“Gunakan sarung tangan dan hindari menghirup asap belerang secara langsung. Pastikan tidak ada api terbuka di sekitar area pengemposan untuk mencegah kebakaran,” himbaunya.
Metode ini efektif untuk mengendalikan populasi tikus di lahan pertanian. Namun, pihaknya tetap memberikan rekomendasi agar tetap di antisipasi petani.
“Lakukan evaluasi 3-5 hari setelah gerakan pengendalian. Pengendalian lanjutan menggunakan Bioyoso di sekitar lubang aktif tikus. Pengendalian secara terus-menerus pada hamparan yang luas,” tukasnya.
Lalu, Pelestarian Tyto alba dengan pembuatan Rumah Burung Hantu (Rubuha) dan pemasangan Tenggeran T di lahan persawahan. Monitoring intensif untuk memantau perkembangan OPT.
Editor : Admin













