KORDANEWS – Warga di Kecamatan Rambang Kuang, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, tepatnya yang bermukim di pinggiran sungai Ogan, tengah merasakan berkah tahunan yang sangat ditunggu-tunggu.
Jamur unik yang dikenal dengan nama ‘Tihau Mudik’ atau ‘Jamur Mudik’ oleh masyarakat setempat, kini kembali muncul di musim peralihan menuju musim penghujan. Kemunculan jamur ini tidak hanya dinanti karena kelezatannya, tetapi juga karena keberadaannya menjadi pertanda datangnya musim pancaroba.
Jamur Tihau Mudik hanya ditemukan di hutan belantara di pinggiran sungai Ogan, terutama di tanah yang dipenuhi dedaunan kering yang hampir membusuk.
Warga setempat tidak selalu beruntung mendapatkan jamur ini sepanjang tahun. Jamur tersebut tumbuh hanya pada waktu-waktu tertentu, biasanya sebelum musim penghujan tiba. Kemunculannya dianggap sebagai tanda alam bahwa musim pancaroba akan segera datang.
Jamur ini memiliki dua jenis yang berbeda, yakni yang menguncup dan yang sudah mengembang. Jenis yang menguncup menjadi favorit warga untuk dipanen dan diolah menjadi berbagai masakan lezat.
Teksturnya yang lembut dan rasanya yang gurih, mirip dengan daging ayam, membuat banyak orang ketagihan. Sajian jamur ini sering disajikan dengan bumbu pedas yang menggugah selera, menambah kelezatannya bagi para pencinta kuliner lokal.
Namun, tidak sembarang orang bisa mengolah jamur Tihau Mudik ini. Pengolahan jamur harus dilakukan dengan sangat hati-hati, karena jamur tersebut dapat mengandung racun yang berbahaya.
Jika racunnya tidak dibersihkan dengan benar, jamur yang dikonsumsi dapat menyebabkan pusing atau bahkan mabuk berat. Beberapa warga mengungkapkan bahwa mereka yang kurang paham dalam mengolah jamur ini sering mengalami “pusing tujuh keliling” setelah mengonsumsinya.
Oleh karena itu, penting bagi warga untuk menyerahkan pengolahan jamur kepada mereka yang sudah ahli agar hasil masakan aman dan lezat.
Jenis jamur Tihau Mudik lainnya adalah yang sudah mengembang. Warga setempat telah memahami bahwa jamur jenis ini sangat berbahaya untuk dikonsumsi.
Meski terlihat mirip, jamur yang sudah mekar ini mengandung racun yang lebih kuat dan sangat sulit dihilangkan.
Warga setempat sangat waspada dan tidak pernah mencoba memasak jamur yang sudah mengembang, karena racunnya dapat memabukkan dan bahkan menyebabkan kematian jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dan tidak segera ditangani.
Meski mengandung potensi bahaya, keberadaan jamur Tihau Mudik tetap menjadi berkah tersendiri bagi warga pinggiran sungai Ogan.
Setiap kali musim jamur ini tiba, warga akan berbondong-bondong mencari jamur yang menguncup untuk kemudian diolah menjadi sajian lezat.
Selain menjadi bagian dari tradisi kuliner lokal, jamur ini juga dianggap sebagai anugerah alam yang hanya hadir pada saat-saat tertentu, menambah kebahagiaan warga setempat setiap tahunnya.
Dengan pemahaman yang tepat dalam pengolahan, jamur Tihau Mudik menjadi simbol harmoni antara warga dan alam sekitar. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Rambang Kuang dan Muara Kuang hingga hari ini.













