Gubernur menyebut bahwa Tahun Baru Islam merupakan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan memperkuat solidaritas sosial.
“Momentum ini menjadi cermin bagi kita semua untuk memperbaiki diri. Kita harus hadir di tengah mereka yang membutuhkan,” katanya.
Santunan diberikan bukan hanya dari sisi nominal, tetapi juga dengan pendekatan emosional yang menunjukkan bahwa pemerintah hadir di tengah masyarakat.
Ia menekankan bahwa perhatian terhadap anak-anak yatim adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya orang per orang, tapi juga negara.
“Santunan ini adalah simbol. Simbol bahwa negara peduli,” ungkapnya.
Dengan dua langkah nyata—pemberdayaan hukum dan bantuan sosial—pemerintah berharap masyarakat desa semakin kuat secara hukum dan spiritual. Gubernur pun mengajak masyarakat untuk memanfaatkan Posbakum sebagai “pengacara rakyat” di level akar rumput.
Editor : Admin













