KORDANEWS – Ketegangan di perbatasan antara Thailand dan Kamboja kembali memanas setelah bentrokan militer pecah di wilayah yang disengketakan. Insiden ini, yang terjadi di dekat area kuil kuno, telah mengakibatkan korban jiwa di kalangan warga sipil dan memicu gelombang evakuasi besar-besaran. Laporan awal mengindikasikan setidaknya dua warga sipil tewas, menambah daftar panjang kerugian akibat konflik berkepanjangan ini.
Dampak Kemanusiaan: Puluhan Ribu Mengungsi
Bentrokan bersenjata ini telah memaksa lebih dari 40.000 orang dievakuasi dari desa-desa di sepanjang perbatasan. Warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, mencari perlindungan di pusat-pusat evakuasi yang didirikan oleh pemerintah setempat. Situasi kemanusiaan di wilayah tersebut memprihatinkan, dengan kebutuhan mendesak akan makanan, air bersih, dan fasilitas medis. Organisasi bantuan kemanusiaan telah menyerukan akses yang aman untuk menyalurkan bantuan kepada para pengungsi.
Latar Belakang Konflik: Sengketa Wilayah Bersejarah
Sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja berakar pada klaim atas beberapa wilayah di sepanjang perbatasan, terutama di sekitar kuil Preah Vihear yang berusia berabad-abad. Meskipun Mahkamah Internasional telah memutuskan kepemilikan kuil tersebut, batas-batas di sekitarnya masih menjadi sumber perselisihan. Bentrokan sporadis telah terjadi selama bertahun-tahun, seringkali dipicu oleh patroli militer atau pembangunan infrastruktur di area yang disengketakan.
Reaksi Internasional dan Upaya Mediasi
Komunitas internasional telah menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara tetangga telah menyerukan kedua belah pihak untuk menahan diri dan menyelesaikan perbedaan melalui dialog damai. Upaya mediasi sedang dilakukan untuk meredakan ketegangan dan mencegah bentrokan lebih lanjut. Namun, tantangan terbesar terletak pada menemukan solusi jangka panjang yang dapat diterima oleh kedua negara untuk demarkasi perbatasan.













