Dampak Positif:
Peningkatan Keramaian: Membuat mall terlihat hidup dan ramai, yang secara psikologis dapat menarik pengunjung lain.
Keamanan Terkontrol: Kehadiran banyak orang di mall seringkali diiringi dengan peningkatan sistem keamanan, yang secara tidak langsung menciptakan rasa aman bagi semua pengunjung.
Potensi Pembeli Masa Depan: Meskipun saat ini “jarang beli”, kelompok ini adalah calon konsumen di masa depan. Pengenalan mereka dengan merek dan suasana mall bisa menjadi investasi jangka panjang.
Dampak Negatif:
Beban Fasilitas: Peningkatan penggunaan fasilitas seperti toilet dan pendingin udara tanpa diimbangi dengan peningkatan pendapatan bisa menjadi beban operasional bagi pengelola mall.
Persepsi Negatif: Beberapa pengunjung atau pemilik toko mungkin merasa terganggu atau menciptakan persepsi negatif tentang “keramaian tidak produktif” atau potensi gangguan.
Isu Ketertiban dan Kebersihan: Konsentrasi orang dalam jumlah besar bisa memicu masalah kebersihan atau ketertiban jika tidak dikelola dengan baik.
Masa Depan Mall sebagai Ruang Publik
Fenomena Rojali menggarisbawahi bahwa mall telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar tempat belanja. Mereka kini berfungsi sebagai “third place” atau ruang ketiga—tempat di luar rumah dan tempat kerja/sekolah di mana orang bisa bersosialisasi dan bersantai.
Bagi pengelola mall, memahami fenomena ini sangat penting. Alih-alih mengusir, mungkin ada strategi yang lebih efektif, seperti menyediakan area khusus untuk berkumpul, atau mengadakan acara gratis yang dapat menarik kelompok ini sekaligus memperkenalkan mereka pada penawaran lain di mall. Pada akhirnya, fenomena ini mencerminkan kebutuhan masyarakat urban akan ruang yang nyaman, aman, dan inklusif untuk bersosialisasi dan berekreasi.
Editor :steven













