KORDANEWS -Film religi kerap kali diidentikkan dengan drama keluarga atau mukjizat spiritual yang jadi inti cerita. Namun, Assalamualaikum Baitullah memilih jalur yang berbeda, bahkan cukup berani, dengan membuka kisahnya melalui percobaan bunuh diri. Pilihan ini jelas bukan hal ringan untuk sebuah film religi, namun film ini seakan tak ragu untuk menunjukkan realitas pahit bahwa bahkan “manusia yang tampak baik-baik saja” pun bisa hancur dan membutuhkan pertolongan. Bagaimana opening novelnya, itu masih jadi pertanyaan bagi penonton yang belum membacanya.
Kilas Balik Amira dan Konflik Cinta Segitiga
Jika ada satu kritik yang bisa dilayangkan, mungkin itu adalah proses “penyembuhan” Amira yang terasa terlalu singkat. Di awal film, penonton diperlihatkan kedalaman luka yang membuatnya nyaris mengakhiri hidup. Namun, proses ia bangkit dan menemukan cahaya terasa terlalu cepat dan mudah. Padahal, dalam kenyataan, proses hijrah seringkali penuh kerikil dan membutuhkan waktu.
Untungnya, konflik cinta segitiga antara Amira, Barra, dan Amel berhasil menyelamatkan paruh kedua film. Tidak ada karakter yang digambarkan sebagai sosok jahat di sini. Justru, semua tokoh dibentuk sebagai individu yang sedang berusaha mencari jalan terbaik menurut keyakinan masing-masing. Bahkan Barra, yang sempat terlihat plin-plan, digambarkan sebagai pria yang sedang “mendoakan jodohnya,” bukan sekadar bermain hati. Pendekatan ini membuat dinamika hubungan mereka terasa lebih manusiawi dan relevan.













