Untuk mengairi sawah, petani terpaksa menyedot air dari sungai menggunakan mesin. Namun, cara ini berdampak negatif karena menyebabkan pendangkalan sungai dan mengganggu kebutuhan air bersih warga untuk mandi, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya.
“Opsi membuat sumur bor sebenarnya ada, tapi itu memerlukan biaya besar. Sedangkan kondisi ekonomi kami sebagai petani masih sangat terbatas,” keluh Rizki.
Melihat berbagai hambatan tersebut, Rizki dan para petani setempat berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah, baik pusat maupun daerah. Mereka mengusulkan penambahan fasilitas alsintan serta solusi jangka panjang terkait sistem pengairan.
“Kami hanya bisa berusaha semampu kami, tapi kalau fasilitas dan infrastruktur pertanian ditingkatkan, kami yakin hasil pertanian akan jauh lebih maksimal. Ini tentu akan sangat membantu dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional,” pungkasnya penuh harap.
Program IP 200 sendiri merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan nasional dengan memaksimalkan lahan pertanian yang ada. Dukungan dari para petani di tingkat akar rumput menjadi penentu keberhasilan program ini dalam jangka panjang.(jml)
Editor : Surya S













