HeadlineSumsel

Senja di Gubuk Reyot: Kisah Endan, Lansia Yang Hidup Sebatang Kara di Pemulutan

×

Senja di Gubuk Reyot: Kisah Endan, Lansia Yang Hidup Sebatang Kara di Pemulutan

Share this article

KORDANEWS – Di ujung sebuah desa di Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, berdiri sebuah gubuk reyot yang tampak rapuh diterpa angin sore. Dindingnya dari daun nipah yang sudah menghitam dimakan usia, atap seng penuh karat dengan bolong di sana-sini, seakan siap runtuh kapan saja. Di dalam gubuk seluas 12 meter persegi itulah seorang pria tua bernama Endan (80) menjalani hari-harinya sendirian.

Sore itu, Endan duduk di kursi tua dengan sebatang rokok nipah di tangannya. Tatapannya sayu, tubuh kurusnya terlihat jelas di balik pakaian batik lusuh yang melekat. Meski fisiknya renta, suaranya masih ramah menyapa.

“Awas hati-hati. Rumah ini mau roboh,” katanya dengan nada bercampur gurau, seakan ingin menutupi getir hidup yang dijalaninya.

Sejak sembilan tahun lalu, Endan menempati gubuk itu di atas tanah milik orang lain. Dulu ia masih mampu bekerja serabutan, namun usia kini membuat tubuhnya lemah. Untuk melangkah pun sulit, apalagi mencari nafkah.

“Hidup saya cuma di sini saja. Panas, hujan, ya tetap di dalam gubuk ini. Sudah tidak kuat lagi bergerak ke mana-mana,” tuturnya lirih.

Endan tidak pernah menikah. Tidak ada anak, tidak ada keluarga. Hidupnya benar-benar sebatang kara. Sehari-hari, ia hanya bisa berharap pada kemurahan hati warga desa yang kadang mengantarkan nasi bungkus atau sebotol air mineral.

“Saya ini belum pernah dapat bantuan dari pemerintah. Yang ada cuma pemberian orang lewat,” katanya pelan sambil menunduk.

Di balik senyum tipisnya, jelas terlihat tulang-tulang menonjol dari tubuhnya yang kurus kering. Tubuh itu bercerita lebih banyak daripada kata-kata: kisah tentang lapar, tentang usia yang terus berjalan, dan tentang kesunyian yang menemani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *