KORDANEWS – Dunia hiburan digital kembali diramaikan oleh naik daunnya Roblox, sebuah platform game online yang kini menjadi primadona di kalangan anak-anak dan remaja. Dengan desain visual yang sederhana namun penuh warna, Roblox menawarkan pengalaman berbeda dari game pada umumnya: bukan hanya bermain, pengguna juga bisa menciptakan dunia virtual sesuai imajinasi mereka.
Popularitas Roblox di Indonesia melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir, menjadikannya salah satu aplikasi paling banyak diunduh. Namun, di balik euforia ini, muncul kekhawatiran dari para orang tua dan pemerhati anak terkait dampak negatif yang mungkin ditimbulkan.
Salah satu isu utama yang mencuat adalah potensi kecanduan. Banyak laporan menyebutkan bahwa anak-anak menghabiskan waktu berjam-jam menjelajahi dunia Roblox, mengorbankan waktu belajar, tidur, hingga interaksi sosial di dunia nyata. Psikolog anak memperingatkan bahwa kecanduan semacam ini bisa berdampak pada perkembangan sosial dan emosional anak dalam jangka panjang.
Roblox juga menggunakan mata uang virtual bernama Robux, yang bisa dibeli dengan uang sungguhan. Sistem ini tak jarang menjadi celah bagi kebiasaan konsumtif yang tidak sehat. Sejumlah kasus menunjukkan anak-anak menggunakan kartu kredit atau akun digital orang tua tanpa izin untuk membeli item dalam game, menimbulkan masalah keuangan dalam keluarga.
Sebagai platform berbasis kreasi pengguna, Roblox memberi kebebasan bagi siapa pun untuk membuat dan membagikan game. Meski memiliki sistem moderasi, konten yang tidak sesuai usia—seperti kekerasan, tema horor, atau interaksi dengan pemain asing yang tidak dikenal—masih bisa lolos dan diakses anak-anak. Risiko paparan konten tak pantas serta potensi terjadinya cyberbullying menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan.













