KORDANEWS – Menjelang akhir 2025, perekonomian dan politik Indonesia dipenuhi dinamika, mulai dari demonstrasi di berbagai daerah, reshuffle kabinet, hingga kebijakan penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI). Rangkaian peristiwa ini mengguncang pasar keuangan dan meningkatkan ketidakpastian bagi pelaku usaha.
Di tengah situasi tersebut, dunia usaha dituntut tidak hanya bertahan, tetapi juga gesit membaca peluang baru. Sejumlah strategi dapat menjadi pegangan agar bisnis tetap tumbuh sekaligus siap menghadapi volatilitas pasar.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan stabil di kisaran 4,9 persen dengan dukungan belanja pemerintah, penurunan bunga acuan, dan arus investasi asing. Namun, risiko perlambatan tetap membayangi akibat potensi pelemahan harga komoditas dan gejolak global.
Bagi pelaku bisnis, langkah utama adalah menjaga cadangan kas dan efisiensi keuangan. Penurunan suku bunga BI ke level 4,75 persen bisa dimanfaatkan untuk refinancing utang atau memperkuat modal kerja, namun risiko pelemahan rupiah tetap perlu diantisipasi lewat lindung nilai.
Ketidakpastian global membuat sektor otomotif dan komoditas lebih rentan. Sebaliknya, sektor digital, kebutuhan pokok, dan jasa terbukti lebih tahan tekanan. Ekonomi digital Indonesia bahkan diperkirakan tembus USD 95 miliar tahun ini, ditopang e-commerce dan fintech.
Pelaku usaha disarankan mengalokasikan investasi ke sektor-sektor tersebut agar pendapatan lebih stabil sekaligus selaras dengan tren masa depan.
RAPBN 2026 memperlihatkan fokus besar pada pendidikan (Rp757,8 triliun), energi (Rp402,4 triliun), program makan bergizi gratis (Rp335 triliun), dan investasi (Rp530 triliun). Perusahaan yang mampu memposisikan diri sebagai mitra pemerintah di sektor-sektor prioritas itu akan memiliki peluang pertumbuhan lebih besar.













