3. Rafael Struick
Striker muda ini sempat jadi eksperimen favorit Shin Tae-yong. Walau belum tajam di level klub, Shin sering memberinya kesempatan tampil di Timnas, termasuk di event besar.
Sayangnya, Kluivert tampaknya punya kriteria berbeda untuk lini depan. Struick kini lebih sering diabaikan, kalah bersaing dengan penyerang yang sedang “on fire” di klub dan dinilai lebih cocok dengan gaya bermain yang diinginkan pelatih asal Belanda tersebut.
4. Ivar Jenner
Gelandang keturunan Belanda ini awalnya dianggap sebagai prospek jangka panjang Shin Tae-yong. Jenner kerap dipasang untuk menambah kreativitas di lini tengah Garuda.
Tetapi di era Kluivert, cedera yang sempat dialaminya ditambah performa klub yang belum stabil membuat namanya tidak masuk daftar pemain. Kluivert memilih gelandang lain yang dinilai lebih siap secara fisik dan taktik.
Mengapa Mereka Tersisih?
- Ada beberapa alasan mengapa “anak emas” Shin Tae-yong kini tak terpakai di era Patrick Kluivert:
- Persaingan ketat akibat hadirnya pemain naturalisasi baru di posisi yang sama.
- Performa klub yang dianggap kurang konsisten, sehingga kalah bersaing dengan pemain lain yang lebih aktif bermain reguler.
- Visi taktik berbeda, Kluivert cenderung mengutamakan pemain dengan fleksibilitas posisi dan fisik yang lebih kuat.
- Faktor cedera, khususnya bagi pemain muda seperti Ivar Jenner, membuatnya kehilangan momentum.











