Sumsel

Guru Honorer di Palembang Ngaku Dizalimi, Tak Bisa Ikut Tes PPPK, Malah Diminta Mundur dari Sekolah!

×

Guru Honorer di Palembang Ngaku Dizalimi, Tak Bisa Ikut Tes PPPK, Malah Diminta Mundur dari Sekolah!

Share this article

PALEMBANG – Miris dan memprihatinkab Seorang guru honorer di Palembang, Sumatera Selatan, mengaku menjadi korban dugaan diskriminasi dan intimidasi di tempatnya mengabdi.

Alih-alih mendapat dukungan untuk mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), guru sejarah bernama Veni Zeliana, S.S., P.d justru diminta mundur dari sekolah tempatnya mengajar.

Veni yang telah mengabdikan diri di SMAN 9 Palembang sejak 22 November 2022 itu menceritakan cobaan yang dialaminya kepada awak media, Jumat (3/10/2025).

Ia mengungkap bahwa sejak November 2024 kariernya di sekolah tersebut seperti dipersulit.

“Saya sudah mengajar sejarah tingkat lanjut di kelas XI. Namun sejak tahun lalu, mata pelajaran itu tiba-tiba dihapus dari daftar paket sekolah. Alasannya, katanya cukup diampu tiga guru ASN yang sudah ada dan peminatnya sedikit. Padahal siswa-siswa saya justru sangat antusias,” keluh Veni dengan mata berkaca-kaca.

Tak berhenti di situ, nasib malang Veni berlanjut ketika ia tidak direkomendasikan pihak sekolah untuk mengikuti seleksi PPPK tahap dua tahun 2024.

Ia mengaku telah memenuhi semua syarat, namun hanya dirinya yang tak dimasukkan namanya ke dalam daftar peserta.

“Semua syarat saya penuhi. Tapi nama saya tidak diusulkan pihak sekolah. Saya sudah coba klarifikasi, malah dipingpong ke sana kemari tanpa jawaban jelas. Alasan mereka berubah-ubah. Saya merasa diperlakukan tidak adil,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Veni mengaku merasa difitnah dan diopinikan buruk sehingga kariernya seolah dipatahkan.

Ia juga mengaku mendapat desakan halus untuk mengundurkan diri dan mencari sekolah lain.

“Saya hanya ingin keadilan. Siswa-siswa saya pun bertanya mengapa saya tidak lagi mengajar. Mereka tahu saya kompeten di bidang sejarah, tapi pelajaran sejarah tingkat lanjut malah dihapus. Saya merasa diperlakukan tidak layak sebagai guru yang sudah mengabdi,” ujarnya sambil menahan tangis.

Sementara itu, Kepala SMAN 9 Palembang, Hamdani, S.Pd., M.Pd., saat dihubungi enggan memberikan keterangan panjang.

Ia hanya menyampaikan undangan untuk hadir langsung ke sekolah pada Senin mendatang untuk memperoleh klarifikasi.

“Terima kasih informasinya. Agar mendapat berita berimbang, kami mengundang Bapak untuk hadir di SMAN 9 Palembang, Senin pukul 09.00 WIB,” tulis Hamdani singkat melalui pesan WhatsApp.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *