Selain pemupukan, Sofyan juga rutin memangkas cabang yang tidak produktif agar energi tanaman terfokus pada bagian yang menghasilkan buah. Sementara pengendalian hama dilakukan dengan cara ramah lingkungan, menggunakan pestisida nabati serta memanfaatkan musuh alami seperti kepik dan laba-laba.
Tanaman pare mulai berbuah pada usia sekitar 38 hingga 43 hari setelah tanam. Panen dilakukan secara bertahap setiap dua hingga tiga hari sekali. Dengan sistem perawatan konsisten dan teknik budidaya yang tepat, Sofyan optimistis pare bisa menjadi komoditas andalan baru bagi petani lokal.
“Kalau perawatan dijaga, hasilnya bisa maksimal dan terus berkelanjutan,” ujarnya menutup percakapan.
Upaya petani seperti Sofyan menjadi contoh kecil dari kesadaran baru di kalangan petani sayuran di Ogan Ilir untuk menerapkan pertanian berkelanjutan, mengombinasikan efisiensi lahan, ramah lingkungan, dan ketahanan pangan lokal.(jml)
Editor : Surya S













