Sumsel

Pertamina Hidupkan Kembali Lahan Tidur di Ogan Ilir Lewat Program Sinergi Semambu

×

Pertamina Hidupkan Kembali Lahan Tidur di Ogan Ilir Lewat Program Sinergi Semambu

Share this article
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menghadirkan sebuah inovasi— Spider Web Irrigation System (SWIS), lewat program Sinergi Semambu, untuk lahan yang dahulunya kering di Desa Pulau Semambu di Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel). Foto : Toriq Abdullah/Kordanews

KORDANEWS — Debu menari di atas tanah retak. Di bawah terik matahari yang tak kenal ampun, Agus Warsito menatap lahan kering di depan rumahnya—tanah yang dulu ia sebut ‘ladang kehidupan’. Namun beberapa tahun lalu, kehidupan itu seolah lenyap. Kekeringan mematikan sumber air, sumur mengering, dan asa petani Pulau Semambu ikut layu.

“Air susah, sumur kering, ladang tinggal debu,” kenang Agus.

“Dulu kalau panen kangkung, 1 kilogram benih cuma bisa jadi 200 ikat. Kadang malah gagal.”sambungnya.

Petani di Desa Pulau Semambu di Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel), Agus Warsito saat panen kangkung di lahannya. Foto : Toriq Abdullah/Kordanews

Desa Pulau Semambu di Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel), memang sudah lama dikenal sebagai daerah rawan kekeringan dan kebakaran lahan. Setiap musim kemarau, ancaman api selalu menghantui. Di satu sisi, petani kekurangan air untuk menyiram tanaman; di sisi lain, tanah yang kering dan gersang mudah sekali terbakar.

Namun siapa sangka, dari tanah yang dulu mati itu kini tumbuh harapan baru. Semua berubah sejak PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menghadirkan sebuah inovasi— Spider Web Irrigation System (SWIS), lewat program Sinergi Semambu, untuk lahan yang dahulunya kering.

PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menghadirkan sebuah inovasi— Spider Web Irrigation System (SWIS), lewat program Sinergi Semambu, untuk lahan yang dahulunya kering. Foto : Toriq Abdullah/Kordanews

SWIS, sesuai namanya, bekerja layaknya jaring laba-laba. Lima titik sumur bor dihubungkan oleh pipa-pipa yang saling menyuplai air ke berbagai penampungan. Sistem ini memastikan air tetap mengalir, meski satu titik sumber mengering. Tak hanya itu, seluruh sistem dioperasikan menggunakan panel tenaga surya (PLTS)—tanpa BBM, tanpa biaya besar, dan sepenuhnya ramah lingkungan.

“Dulu pompanya pakai bensin, habisnya banyak. Sekarang pakai tenaga surya, jadi irit,” kata Agus sambil tersenyum.

Dengan sistem ini, air bisa disiram dua kali sehari, membuat tanah tetap lembab dan subur. Hasilnya luar biasa. Dari lahan berukuran 15×50 meter, Agus kini mampu memanen lebih banyak dari sebelumnya.

“Sebelum pakai SWIS, 1 kilogram benih kangkung cuma 200 ikat. Sekarang bisa 300 ikat. Panennya juga lebih cepat, cuma 21 hari sudah bisa panen, dulu 26 hari,” ujarnya bangga.

Dengan harga Rp1.000 per ikat, hasil panennya kini menjadi sumber penghasilan yang stabil. Kangkung, bayam, dan sawi dari kebunnya bahkan dijual hingga ke Palembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *