KORDANEW – Bagi para pelancong yang pernah menjejakkan kaki di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, mustahil melewatkan manisan dengan kuah kuning cerah yang segar. Itulah Carica, buah eksklusif yang dijuluki “pepaya gunung”—sebutan yang merujuk pada habitatnya di ketinggian.
Meskipun sekilas mirip dengan pepaya biasa, buah dengan nama ilmiah Vasconcellea pubescens ini menyimpan kisah unik dan segudang manfaat kesehatan.
Bukan Buah Lokal, Tapi Sudah Jadi Maskot
Fakta menarik pertama dari Carica adalah ia bukan tanaman asli Indonesia. Buah ini berasal dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan, meliputi wilayah Ekuador, Kolombia, dan Peru. Carica hanya dapat tumbuh subur di iklim dingin dan basah, pada ketinggian antara 1.500 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut.
Bibitnya dibawa ke Indonesia oleh Pemerintah Kolonial Belanda menjelang Perang Dunia II, dengan tujuan awal untuk dibudidayakan sebagai bahan farmasi. Belanda memilih Dieng karena kondisi geografisnya yang ideal. Meskipun proyek itu sempat terhenti, tanaman ini berhasil beradaptasi dan berkembang biak. Sejak tahun 1980-an, masyarakat Wonosobo mulai mengolahnya menjadi manisan, menjadikannya oleh-oleh wajib dan ikon khas daerah tersebut hingga hari ini.













