KORDANEWS – Eksperimen Apple untuk menghadirkan iPhone tertipis dalam sejarah, yang diberi nama iPhone Air, dilaporkan telah menjadi “kegagalan penjualan besar” di pasar global. Meskipun masuk dalam seri iPhone 17 yang secara keseluruhan sukses, model ultra-tipis (5.6mm) ini gagal menarik minat konsumen, memaksa Apple untuk secara drastis memangkas produksinya hanya beberapa minggu setelah peluncuran.
iPhone Air dirancang sebagai lambang keindahan dan ringan, menjadikannya iPhone teringan sejak iPhone 12 mini. Namun, keunggulan desain ini ternyata harus dibayar mahal dengan pengorbanan pada fungsi esensial yang justru sangat dihargai oleh pengguna smartphone premium.
Pemotongan Produksi hingga ‘Level Akhir Produksi’
Reaksi pasar yang dingin dengan cepat tercermin dalam keputusan rantai pasok. Menurut laporan dari Nikkei Asia, Apple telah menginstruksikan pemasok untuk mengurangi pesanan produksi iPhone Air hingga mendekati “level akhir produksi.”
Analis terkemuka, Ming-Chi Kuo, mengklaim bahwa sebagian besar pemasok berencana memangkas kapasitas pengiriman dan produksi hingga lebih dari 80% pada awal tahun 2026. Data awal menunjukkan bahwa iPhone Air hanya menyumbang sekitar 3% dari total penjualan seri iPhone 17—angka yang sangat kecil dibandingkan dengan performa model iPhone 17 dasar dan Pro Max yang laris manis.
Apple kini berfokus mengalihkan sumber daya dan kapasitas produksi ke model yang permintaannya lebih tinggi, yaitu iPhone 17 standar dan model Pro yang lebih premium.
Mengapa Konsumen Menolak Tipis? Tiga Kompromi Fatal
Kegagalan iPhone Air tampaknya disebabkan oleh tiga kompromi besar yang dinilai konsumen tidak sebanding dengan label harga premiumnya:













