Daya Tahan Baterai Lemah: Untuk mencapai profil tipis, Apple terpaksa menyematkan baterai yang lebih kecil. Penjual di toko-toko offline bahkan terang-terangan merekomendasikan iPhone Air hanya sebagai “ponsel cadangan” karena daya tahan baterainya dianggap tidak memadai untuk penggunaan sehari-hari.
Kamera Tunggal: Di segmen harga high-end, konsumen mengharapkan keserbagunaan fotografi. iPhone Air hanya memiliki satu kamera belakang (48MP), kontras dengan iPhone 17 standar yang memiliki dua kamera, dan model Pro yang memiliki tiga kamera. Kurangnya kamera ultrawide atau telephoto dianggap sebagai kekurangan fitur yang tidak dapat diterima.
Posisi Harga yang Canggung: Dengan harga peluncuran yang lebih mahal $100 dari iPhone 17 dasar, iPhone Air berada di “wilayah tanpa tuan.” Konsumen yang mencari nilai memilih iPhone 17 dasar yang memiliki baterai lebih baik dan dua kamera. Sementara konsumen yang mencari fitur premium memilih model Pro Max.
Bahkan di pasar barang bekas, yang sering menjadi barometer permintaan sesungguhnya, iPhone Air dilaporkan mengalami inversi harga—nilai jual kembali turun di bawah harga resmi—sebuah anomali yang jarang terjadi pada produk Apple baru.
Pelajaran untuk Masa Depan Smartphone
Pengalaman iPhone Air (dan serupa dengan model ultra-slim pesaing seperti Samsung Galaxy S25 Edge) memberikan pelajaran penting: di era modern, nilai fungsionalitas mengalahkan estetika semata.
Selama bertahun-tahun, industri didorong oleh perlombaan menjadi yang tertipis. Namun, kini, konsumen lebih menghargai baterai besar yang tahan lama dan sistem kamera yang kuat, bahkan jika itu berarti ponsel menjadi sedikit lebih tebal. Eksperimen desain Apple ini, seperti halnya model mini dan Plus di masa lalu, tampaknya hanya akan menjadi batu loncatan menuju faktor bentuk berikutnya, kemungkinan foldable iPhone yang dikabarkan akan segera hadir.













