Teddy mengungkapkan bahwa proposal perbaikan jalan telah menumpuk di meja pemerintah, namun tak kunjung ada realisasi. Ia juga menyinggung kegiatan reses DPRD yang dinilai sekadar formalitas tanpa langkah konkret.
“Proposal sudah banyak. Reses juga banyak. Tapi jalan tetap begini,” kata Teddy dalam keterangan tertulisnya.
Aksi protes kreatif seperti yang dilakukan Teddy bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, warga kerap memilih media sosial sebagai ruang protes alternatif ketika jalur birokrasi dianggap buntu.
Gaya satir, visual mencolok, hingga aksi ekstrem sering kali membuat protes semacam ini viral, memaksa pemerintah merespons lebih cepat. Di Ogan Ilir, unggahan Teddy kini tengah menjadi pembicaraan luas, memunculkan tekanan agar pemerintah segera memperbaiki akses vital tersebut.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir terkait aksi protes yang viral tersebut.(jml)
Editor : Surya S













