Telinga tersebut kemudian “ditanam” di bawah kulit kaki dan dihubungkan ke pembuluh darah di sana. Tujuannya adalah agar telinga tersebut mendapatkan suplai oksigen dan darah yang cukup untuk menjaga tulang rawan tetap fleksibel dan jaringan tetap hidup, sementara luka di bagian kepala pasien disembuhkan dan dibersihkan dari infeksi.
Proses “Inkubasi” Selama 4 Bulan
Telinga tersebut dibiarkan menempel di kaki pasien selama hampir empat bulan. Selama periode ini, pasien tetap bisa beraktivitas secara terbatas sementara tubuhnya secara alami “merawat” telinga tersebut. Dokter secara rutin melakukan pemindaian untuk memastikan aliran darah ke daun telinga tetap lancar.
Setelah area kepala dinyatakan sembuh total dan siap menerima cangkokan, tim medis melakukan operasi tahap kedua yang melelahkan selama 12 jam untuk memindahkan telinga itu kembali ke posisi aslinya di kepala, lengkap dengan penyambungan pembuluh darah mikro.
Keberhasilan dan Masa Depan Rekonstruksi
Operasi pengembalian tersebut dinyatakan sukses besar pada Desember 2025. Telinga pasien kini kembali ke tempatnya dengan fungsi sensorik yang mulai pulih dan bentuk estetika yang terjaga hampir sempurna.
Keberhasilan ini membuka jalan bagi penanganan kasus serupa, seperti kehilangan hidung atau jari tangan akibat trauma berat. Metode ini membuktikan bahwa bagian tubuh lain bisa berfungsi sebagai “bank organ sementara” saat lokasi asli sedang tidak memungkinkan untuk dilakukan bedah rekonstruksi segera.













