KORDANEWS – Film bencana Greenland 2: Migration resmi tayang di bioskop dan melanjutkan kisah keluarga Garrity setelah kehancuran besar akibat hantaman komet. Dibintangi kembali oleh Gerard Butler, sekuel ini mencoba membawa cerita ke arah yang lebih gelap dan reflektif, meski respons kritikus terbilang beragam.
Berbeda dengan film pertamanya yang penuh ketegangan soal upaya menyelamatkan diri dari kiamat, Migration berfokus pada kehidupan setelah bencana—saat dunia telah runtuh dan harapan menjadi sesuatu yang langka.
Cerita: Bertahan di Dunia Pasca-Kiamat
Lima tahun setelah komet menghantam Bumi, John Garrity (Gerard Butler) dan keluarganya dipaksa meninggalkan tempat perlindungan mereka yang rusak. Bersama kelompok kecil penyintas, mereka memulai perjalanan berbahaya melintasi wilayah Eropa yang porak-poranda untuk mencari daerah yang masih bisa dihuni.
Film ini menempatkan penonton di dunia baru yang sunyi, dingin, dan penuh ketidakpastian. Ancaman bukan hanya datang dari alam, tetapi juga dari sesama manusia yang berjuang mempertahankan hidup dengan cara apa pun.
Lebih Fokus Drama daripada Spektakel
Jika film pertama unggul lewat ketegangan dan adegan bencana berskala besar, Greenland 2: Migration justru menekan gas di sisi drama. Hubungan keluarga, pilihan moral, serta dilema kemanusiaan menjadi inti cerita.
Pendekatan ini diapresiasi sebagian penonton, namun juga menuai kritik. Beberapa ulasan menyebut ritme film terasa lambat dan konflik kurang menggigit dibanding pendahulunya.













