Jika genosida yang dilakukan AS terhadap Suku Indian adalah dosa masa lalu Amerika Serikat, maka dukungan terhadap genosida Zionis Israel di Palestina adalah dosa yang sedang mereka lakukan di hadapan mata dunia saat ini.
Selama puluhan tahun AS menjadi pelindung utama Zionis Israel, baik secara politik, ekonomi, maupun militer. Setiap kali Dewan Keamanan PBB berupaya menghentikan agresi Israel, AS tampil sebagai penghalang melalui hak veto.
Ketika laporan pelanggaran HAM Zionis Israel dirilis, Washington menutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina, menjadikan standar moral bersifat ganda.
Kesombongan AS tercermin dari tindakannya yang menempatkan diri sebagai penentu kebenaran global, bertindak seolah hukum internasional tunduk pada kepentingannya.
Pola inilah yang membuat Amerika Serikat semakin terasing dari nilai-nilai universal yang mereka klaim sendiri. Kekuasaan sebagai negara Adidaya justru menjelma menjadi “monster” yang siap “menerkam” negeri manapun, tanpa memedulikan HAM, kemanusiaan dan keadilan.
Dukungan AS kepada penjajah Zionis Israel bukan semata-mata karena aliansi strategis, melainkan karena kesamaan watak kolonial. Israel berdiri di atas tanah rampasan milik rakyat Palestina, sebagaimana AS juga berdiri di atas tanah rampasan milik Suku Indian.
Namun sejarah menunjukkan, perilaku zalim hanya mempercepat kehancuran suatu bangsa. Saat ini, di mata banyak bangsa, AS dipandang sebagai sponsor utama aksi genosida dan kejahatan kemanusiaan global.
Tanda Kehancuran Amerika
Buku berbahasa Arab berjudul: Amerika di Ambang Kehancuran, Suatu Tinjauan Futuristik oleh Mamduh Az-Zubi (2004) menyebutkan tentang berbagai indikasi yang terjadi di AS saat ini yang mengarah menuju kehancurannya.
Buku tersebut membaca gejala-gejala struktural yang mengindikasikan bahwa AS kini berada pada titik jenuh hegemoninya. Fenomena tersebut sering disebut sebagai imperial overstretch (dominasi yang terlalu lelah).
Dalam analisisnya, Mamduh menyatakan berbagai tekanan internal dan eksternal yang akan menyebabkan kehancuran AS, di antaranya: defisit neraca perdagangan, lonjakan utang publik, polarisasi politik domestik, serta kelelahan militer akibat konflik berkepanjangan.
Selain itu, jurang sosial-ekonomi antar masyarakat AS yang semakin lebar, politik dalam negeri yang sering bergejolak, kebijakan ekonomi yang kurang responsif terhadap kebutuhan rakyat jelata, terus meningkatnya angka kriminalitas dan sederet masalah lainnya membuat negara itu rapuh dari dalam.
Ketika kebijakan luar negeri AS lebih mengutamakan kepentingan domestik daripada nilai-nilai universal seperti yang dilakukan oleh presidennya saat ini, Donald Trump dengan slogan American First, hal itu justru membuat citra negaranya semakin merosot di mata dunia internasional.
Sementara itu, kebangkitan ekonomi China, India dan negara-negara Asia lainnya mengancam hegemoni AS di kancah dunia
Jika AS gagal bertransformasi sesuai realitas multipolar baru, maka dia akan kehilangan kemampuannya memimpin tatanan global, hingga akhirnya dia kehilangan legitimasi internasional.
Perjalanan sejarah AS memperlihatkan satu benang merah yang sulit disangkal, kekuasaan yang dibangun di atas kezaliman tidak pernah benar-benar kokoh.
Ketika kezaliman dibiarkan atas nama kepentingan politik dan ekonomi, maka yang sedang dibangun bukanlah stabilitas, melainkan bahaya laten yang mengancam siapa saja dan kapan saja. Kekuasaan yang diiringi oleh kesombongan pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri.
Kesombongan akan membutakan akal sehat, menumpulkan nurani, dan mendorong kekuasaan dijalankan tanpa kendali. Siapa pun yang enggan menundukkan ego kekuasaan, pada akhirnya akan ditundukkan oleh hukum sejarah yang tak pernah berpihak pada kezaliman.
Oleh karena itu, siapapun yang ingin membangun tatanan kehidupan yang penuh kedamaian, hendaknya mampu menegakkan keadilan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Imaam Yakhsyallah Mansur adalah Pembina Yayasan Al-Fatah Indonesia.













