KORDANEWS – Industri film Indonesia kembali mencatat langkah penting di panggung internasional lewat film Esok Tanpa Ibu. Film drama yang memadukan emosi keluarga dan sentuhan fiksi ilmiah ini menjadi simbol kolaborasi lintas negara antara sineas Indonesia, Singapura, dan Malaysia, sekaligus menegaskan posisi sinema Indonesia yang kian diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara.
Esok Tanpa Ibu diproduksi melalui kerja sama sejumlah rumah produksi regional, dengan dukungan lembaga perfilman dari Singapura. Proyek ini dikembangkan selama beberapa tahun dan melibatkan tim kreatif lintas negara, mulai dari penulisan naskah hingga proses produksi, menjadikannya salah satu proyek film regional paling ambisius dalam beberapa waktu terakhir.
Cerita Emosional dengan Isu Teknologi
Film ini mengangkat kisah seorang remaja yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika sang ibu berada dalam kondisi koma. Di tengah rasa kehilangan dan kebingungan, ia mencoba memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk “menghadirkan kembali” sosok ibunya secara digital.
Tema tersebut membuat Esok Tanpa Ibu tidak hanya menyentuh sisi emosional penonton, tetapi juga mengajak berpikir tentang batas antara teknologi, cinta, dan kehilangan. Film ini menempatkan relasi ibu dan anak sebagai pusat cerita, dengan latar dilema moral yang relevan dengan perkembangan zaman.
Kolaborasi Tanpa Batas Bahasa
Sutradara film ini menilai perbedaan bahasa dan latar budaya bukan menjadi hambatan utama dalam proses produksi. Justru, kerja sama lintas negara memperkaya sudut pandang dan pendekatan visual film.
Menurut tim produksi, emosi menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan seluruh kru dan pemain. Pendekatan inilah yang membuat Esok Tanpa Ibu terasa dekat dengan penonton dari berbagai latar belakang budaya.













