KORDANEWS – Kondisi darah mengental atau mudah menggumpal sering kali dianggap sepele. Padahal, pembekuan darah berlebihan dapat menyumbat aliran darah ke organ vital seperti otak, jantung, maupun paru-paru dan berujung pada stroke, serangan jantung, hingga kerusakan organ serius.
Secara medis, darah yang terlalu mudah membeku disebut hiperkoagulasi. Dalam kondisi normal, pembekuan darah memang diperlukan untuk menghentikan perdarahan saat terjadi luka. Namun jika gumpalan terbentuk tanpa kebutuhan atau tidak larut dengan baik, aliran darah bisa terhambat dan menjadi berbahaya bagi tubuh.
Faktor penyebab darah mengental
Banyak kondisi kesehatan maupun gaya hidup yang dapat meningkatkan risiko darah mengental. Beberapa di antaranya adalah obesitas, usia lanjut, merokok, diabetes, peradangan, kanker, penggunaan terapi hormon atau pil KB, hingga kurang bergerak dalam waktu lama. Dehidrasi juga dapat membuat pembuluh darah menyempit sehingga darah menjadi lebih kental dan mudah membeku.
Selain faktor yang didapat, ada pula penyebab genetik yang berkaitan dengan kelainan protein pembekuan darah atau gangguan yang memengaruhi proses penghancuran gumpalan. Meski lebih jarang, faktor keturunan ini tetap dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah berbahaya.
Sejumlah penyakit seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, hingga gangguan darah tertentu juga berperan dalam meningkatkan kekentalan darah dan pembentukan trombus. Gaya hidup tidak sehat—termasuk merokok, pola makan buruk, dan kurang olahraga—turut memperbesar risiko tersebut.
Hubungan darah kental dan stroke
Stroke terjadi ketika suplai darah ke otak terganggu, baik karena penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah. Tekanan darah tinggi menjadi penyebab paling umum, disusul penyakit jantung, kebiasaan merokok, serta faktor metabolik seperti kolesterol tinggi dan diabetes.
Gumpalan darah yang terbentuk akibat hiperkoagulasi dapat berpindah ke pembuluh darah otak dan memicu stroke. Gejalanya bisa berupa sakit kepala hebat, gangguan bicara, kelumpuhan, pusing, hingga kesulitan memahami ucapan.
Di Indonesia sendiri, stroke termasuk penyebab kematian utama dan disabilitas tertinggi, sehingga pencegahan melalui pengendalian faktor risiko menjadi sangat penting.













