Langkah Mitigasi: Berjemur hingga Suplementasi
Untuk mengatasi tren penurunan ini, para pakar kesehatan merekomendasikan strategi pencegahan yang terukur. Langkah pertama adalah optimalisasi paparan sinar matahari. Waktu yang paling efektif di wilayah Asia Tenggara adalah antara pukul 09.00 hingga 10.00 pagi. Cukup dengan durasi 10-15 menit sebanyak tiga kali seminggu, dengan membiarkan area lengan dan kaki terpapar langsung tanpa penghalang kaca atau kain tebal.
Dari sisi nutrisi, konsumsi ikan berlemak seperti salmon, makarel, dan sarden, serta kuning telur menjadi pilihan utama. Namun, mengingat sumber makanan alami hanya mampu menyumbang sekitar 10-20% kebutuhan harian, intervensi medis sering kali menjadi keharusan.
Pengecekan kadar 25-hydroxyvitamin D melalui tes laboratorium kini sangat disarankan bagi mereka yang memiliki aktivitas tinggi di dalam ruangan. Jika kadar berada di bawah ambang batas normal (30 ng/mL), dokter biasanya akan meresepkan suplementasi dengan dosis berkisar antara $1000$ hingga $5000$ IU, tergantung pada tingkat keparahan defisiensi.
Risiko Jangka Panjang
Mengabaikan tanda-tanda kekurangan Vitamin D dalam jangka panjang dapat membuka pintu bagi penyakit yang lebih berat. Selain osteoporosis pada lansia dan rakitis pada anak-anak, penelitian terbaru terus mengeksplorasi hubungan antara defisiensi kronis dengan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, hingga gangguan autoimun.
Kesehatan masyarakat kini bergantung pada kesadaran individu untuk menyeimbangkan antara aktivitas modern dengan kebutuhan biologis dasar akan paparan cahaya alami dan nutrisi yang tepat.













