Opsi Pengobatan: Dari Medis hingga Tindakan Mandiri
Untuk mengatasi serangan ini, para ahli medis menyarankan pendekatan yang terbagi dalam dua langkah utama: meredakan nyeri dan mencegah peradangan.
Dari sisi farmakologi, penggunaan obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) seperti ibuprofen atau naproxen dianggap sangat efektif. Obat-obatan ini bekerja dengan menghambat produksi prostaglandin secara langsung. Untuk hasil terbaik, dokter sering menyarankan konsumsi obat ini dua hingga tiga hari sebelum haid dimulai sebagai langkah antisipasi. Jika nyeri sangat parah hingga mengganggu penglihatan, penggunaan golongan obat triptan mungkin diperlukan di bawah pengawasan dokter saraf.
Bagi mereka yang memilih cara non-obat, kompres dingin di bagian belakang leher atau dahi adalah metode yang terbukti secara klinis dapat mengecilkan pembuluh darah yang melebar. Selain itu, beristirahat di ruangan yang gelap dan bebas suara sangat membantu, mengingat penderita migrain menstrual biasanya sangat sensitif terhadap cahaya dan kebisingan (fotofobia dan fonofobia).
Strategi Pencegahan Jangka Panjang
Kabar baiknya, migrain ini bisa diminimalisir melalui pola makan. Menambah asupan magnesium satu minggu sebelum masa haid dapat membantu menstabilkan aktivitas saraf di otak. Magnesium banyak ditemukan dalam kacang-kacangan, sayuran hijau gelap, dan cokelat hitam.
Menjaga hidrasi tubuh dengan minum minimal 2,5 liter air sehari selama masa menstruasi juga sangat krusial untuk menjaga volume darah tetap stabil. Para ahli juga menyarankan untuk mengurangi konsumsi garam dan kafein selama masa ini, karena keduanya dapat memicu penyempitan dan pelebaran pembuluh darah yang tidak menentu.
Memahami siklus hormonal sendiri adalah kunci utama. Dengan mencatat kapan sakit kepala muncul, Anda dapat melakukan langkah pencegahan lebih awal sebelum “badai hormon” tersebut menyerang.













