Sejak pertama kali diumumkan, “Project Y” telah memikul ekspektasi raksasa. Pertemuan dua ikon aktris generasi baru, Han So-hee dan Jeon Jong-seo, dalam satu layar adalah impian para penggemar sinema noir. Dirilis pada akhir Januari 2026, film arahan sutradara Lee Hwan ini menjanjikan lebih dari sekadar aksi perampokan biasa—ia menjanjikan sebuah dekonstruksi persahabatan perempuan di tengah kerasnya distrik Gangnam.
Namun, setelah layar bioskop menyala, apakah “Project Y” berhasil memenuhi ekspektasi tersebut, ataukah ia hanya sekadar “pesta visual” tanpa jiwa?
Sinopsis: Taruhan Nyawa di Jantung Seoul
“Project Y” mengikuti kisah Mi-seon (Han So-hee) dan Do-kyung (Jeon Jong-seo), dua sahabat yang tumbuh besar di jalanan keras Gangnam. Lelah menjadi “sampah” di balik gemerlapnya gedung pencakar langit, keduanya merancang rencana nekat: mencuri emas batangan senilai puluhan miliar won milik sindikat bawah tanah.
Berbeda dengan film perampokan (heist) tradisional yang berfokus pada kecanggihan teknologi, film ini lebih menekankan pada aspek psikologis. Mi-seon adalah otak yang dingin dan kalkulatif, sementara Do-kyung adalah otot yang impulsif dan liar. Dinamika “api dan es” inilah yang menjadi penggerak utama narasi.
Chemistry yang Menembus Layar
Salah satu kekuatan utama film ini adalah chemistry antara kedua pemeran utamanya. Han So-hee dan Jeon Jong-seo, yang dikenal bersahabat dekat di kehidupan nyata, berhasil membawa keintiman tersebut ke dalam karakter mereka. Penonton tidak hanya melihat dua orang yang bekerja sama, tetapi dua jiwa yang saling bergantung satu sama lain.
Kritikus memuji kemampuan Jeon Jong-seo dalam menampilkan intensitas kegilaan yang menjadi ciri khasnya, sementara Han So-hee memberikan performa yang lebih tenang namun penuh luka emosional yang dalam. Transformasi visual mereka—dengan riasan minimalis dan gaya busana grunge—memberikan kesan autentik pada karakter yang “terbuang.”











