Secara teknis, “Project Y” adalah mahakarya visual. Penggunaan pencahayaan neon yang kontras dengan sudut-sudut gelap Gangnam menciptakan atmosfer yang mencekam sekaligus memikat. Musik latar yang digarap oleh produser GRAY, dengan sentuhan vokal dari Hwasa, memberikan energi modern yang membuat film ini terasa seperti video musik berdurasi panjang dengan estetika tinggi.
Namun, dari sisi naskah, “Project Y” tidak luput dari kritik. Beberapa pengulas berargumen bahwa plot perampokannya sendiri terasa klise. Setelah paruh pertama yang sangat menjanjikan, tempo film terasa melambat di babak kedua dengan konflik internal yang berulang. Penjahat utama dalam film ini juga dianggap kurang memiliki motivasi yang kuat, sehingga taruhan yang dirasakan penonton sedikit berkurang menjelang klimaks.
Performa Box Office dan Respon Publik
Meskipun didukung oleh dua bintang besar, perjalanan “Project Y” di tangga Box Office Korea Selatan terbilang cukup menantang. Hingga minggu kedua Februari 2026, film ini mencatatkan angka sekitar 140.000 penonton.
Rendahnya angka ini disinyalir karena segmentasi pasar film noir yang cukup terbatas serta persaingan ketat di awal tahun. Kendati demikian, film ini diprediksi akan menjadi cult classic saat dirilis di platform streaming global, mengingat basis penggemar internasional Han So-hee dan Jeon Jong-seo yang sangat besar.
Kesimpulan: Sebuah Eksperimen Berani
“Project Y” mungkin bukan film perampokan paling sempurna dari segi logika plot, namun ia tetap merupakan pencapaian penting dalam perfilman Korea. Film ini membuktikan bahwa narasi noir perempuan memiliki tempat tersendiri dan mampu tampil sekeren film-film maskulin yang selama ini mendominasi genre tersebut.
Bagi penonton yang mencari aksi penuh gaya dengan performa akting kelas atas, “Project Y” adalah tontonan wajib. Namun, bagi mereka yang mengharapkan plot heist yang rumit ala Ocean’s Eleven, film ini mungkin akan terasa lebih seperti drama karakter daripada sekadar film kriminal.











