“Perusahaan ini bermasalah, warga dirugikan, bahkan tidak kooperatif sampai buaya diduga ada yang lepas dan meresahkan warga takut kena gigit. Kalau begini caranya bukan tidak mungkin kita rekomendasikan ditutup saja,” tegas Irwan.
Senada, Basri M Zahri mengatakan miris dengan perusahaan tersebut. “Bayangkan ada 4 ribuan lebih buaya dan banyak warga tidak tahu kalau disini tempat penangkaran buaya. Kalau buayanya lepas bisa habis warga di 3 kecamatan,” paparnya.
Kades Payalingkung Misriyadi mengatakan, pihak perusahaan sangat tertutup dengan warga.
“Bahkan saya baru kali ini masuk kesini. Mereka tidak kooperatif, staf pekerjanya saja minim. Kabarnya kulit buaya ini untuk dibuat tas dan sebagainya,” jelasnya.
Terpisah, GM Manager Pam Buaya PT Vista Agung Kencana Joko mengakui jika ada 4477 ekor buaya laut sampai November tahun 2017.
“Kita ada izin dari Kementerian Kehutanan di Jakarta, pengembangan budidaya buaya ini tidak cuma disini tapi di Medan, Pontianak, Serang, Tangerang. Kalau soal perizinan, papan reklame, bayar pajak, CSR saya tidak mengerti. Kalau teknis pemeliharaan, evakuasi buaya bagian saya. Kalau buaya ada yang lepas saya belum tahu karena belum monitor,” terangnya.
Editor : mahardika













