EkonomiNusantara

Tarif Ojek Rp 700.000 Ini Menjadi Yang Termahal di Indonesia

×

Tarif Ojek Rp 700.000 Ini Menjadi Yang Termahal di Indonesia

Share this article

KORDANEWS-Minggu, 25 Maret 2018 menjadi kenangan tersendiri bagi Arfa Opha yang merupakan warga kota Makassar. Dia mendadak viral sesaat setelah menceritakan kisah perjalanannya ketikasetelah melintasi Jalan Poros, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan harga ojek termahal yang pernah ada di Indonesia dengan kisaran harga mencapai Rp700.000 hingga Rp750.000.
Lokasi tersebut terletak di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara. Kawasan tersebut juga dikenal dengan pembangunan PLTA oleh PT. Seko Power Prima di wilayah Masyarakat Adat Amballong. Kondisi jalan yang berlumpur dengan genangan air yang tak tanggung mencapai kedalaman 2 meter tersebut terkadang harus membuat si tukang ojek harus mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk mencari sesuap nasi.
“Iya kejadiannya sudah berpuluh-puluh tahun dan terkesan menjadi pembiaran oleh pemerintah daerah dan provinsi. Tak tanggung harga sewa ojeknya saja mencapai Rp700 ribu hingga Rp750. Ribu. Menurut saya kejadian ini sudah menjadi kejadian yang luar biasa dan patut menjadikan perhatian khusus,” kata Arfa.
Sesaat setelah keluar dari Kecamatan Limbong, kata Arfa, dengan jarak kurang lebih 70,5 kilometer memasuki kawasan Jalan Poros, Provinsi Sulsel ini sudah nampak hancur dan tak ada sama sekali perhatian dari pemerintah setempat.
Warga yang berada di Seko sendirinya terpaksa harus merombak penuh motor mereka agar dapat melintasi Jalan Poros di provinsi tersebut. Arfa membeberkan, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka terpaksa harus mempertaruhkan nyawanya dengan melalui jalan terjal berlumpur tanpa adanya rem belakang pada motor hasil modifikasi tersebut.

“Mereka harus melalui tanjakan, bahkan jalan terjal dan berlumpur tanpa menggunakan rem belakang yang khusus selain itu juga tak memakai standar atau kuda – kuda untuk menyangga kaki,” bebernya.
Kawasan terpencil dengan 12 desa yang mengelilingi lokasi tersebut. Perkampungan itu juga lanjut Arya dipercayai sebagai kaki langit untuk jantung Sulawesi Selatan yang berada tepat di bawah Pegunungan Kambuno yang berada 2.985 meter di atas permukaan laut.
Masyarakat setempat juga diketahui menggantungkan hidupnya dengan bercocok tanam hingga berternak. Selain memiliki kopi dengan cita rasa terbaik, mereka juga dipercaya memiliki hasil kebun kakao yang diwariskan oleh leluhur.
“Untuk menjual hasil kebun mereka biasanya melalui japan tersebut dengan menembus jalan berlumpur yang tidak mungkin dilalui kendaraan standar pada umumnya,” jelas Arfa.

Warga setempat yang terbiasa menggunakan transportasi motor ojek walaupun pemerintah telah membangun fasilitas bandara perintis yang berada di pusat Kecamatan Seko. Masyarakat setempat juga mengeluhkan jabwal penerbangan yang belum berlansung secara normal sehingga mereka lebih memilih kendaraan jenis ojek.
Selain pesawat jenis Casa hanya bisa mengangkut maksimal 24 orang sehingga warga harus membeli tiket jauh-jauh hari sebelum rencana penerbangan. Tarif tiket Masamba-Seko sebesar Rp180.000. Meski lebih mahal, ojek seharga Rp600.000 terpaksa menjadi pilihan mereka karena frekuensi yang lebih sering.
Sementara Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Sulsel, Amin Yakub sesaat setelah dikonfirmasi melalui via WhatsApp menyatakan pembangunan jalan trans Sulawesi sendirinya masih dalam tahapan pengerjaan setelah berpuluh-puluh tahun mengalami kerusakan parah.
Dirinya juga enggan berspekulasi lebih jauh akan tenggang waktu dan keseriusan pemerintah setempat dalam melakukan pemerataan infrastruktur pembangunan jalan. “Sementara dalam proses tender,” singkatnya.

Editor : ardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *