Puas memandangi keindahan alam di Batutumonga, saya melanjutkan perjalanan. Kali tempat yang di tuju adalah Kete’ Kesu yang merupakan salah satu desa adat di Tana Toraja. Selain terdapat deretan Tongkonan atau rumah ada suku Toraja, di tempat ini juga ditemui pemakaman berupa gua yang berundak-undak.
Di tiap rumah adat Tongkonan terlihat deretan tanduk kerbau yang merefleksikan tingkat sosial pemilik tongkonan. Tanduk kerbau tersebut didapat pada saat upacara pemakaman Rambu Solo salah satu keluarga pemilik Tongkonan yang menandakan banyaknya kerbau yang disembelih pada saat acara tersebut. Banyaknya tanduk kerbau juga merefleksikan tingkat sosial pemilik Tongkonan dan keluarganya. Semakin banyak tanduk kerbau yang dipajang di depan rumah, semakin tinggi kelas atau tingkat sosialnya.
Di Kete’ Kesu juga terdapat beberapa toko yang menjual cinderamata khas Tana Toraja; seperti kotak kayu berukir dengan berbagai ukuran, patung tao tao dan lain sebagainya. Saat di perjalanan sang pengendara motor memberitahukan bahwa saat ini ada acara Rambu Solo yang berlokasi di sekitar Kete’ Kesu. Betapa senang saya mendengar informasi ini.
Sebelum menuju ke tempat acara Rambu Solo, saya diantar ke toko kelontong untuk membeli gula, kopi dan rokok. Barang-barang ini biasa dibawa para tamu yang datang di acara Rambu Solo. Tiba di tempat acara, terlihat para tamu datang silih berganti. Kerbau dan babi berduyun-duyun diantarkan oleh para kerabat. Menurut berita, ini adalah hari keempat dari rangkaian acara Rambu Solo. Rambu Solo yang saya datangi diadakan untuk memakamkan orang tua salah satu warga terpandang. Karenanya acara berlangsung selama berhari-hari. Barisan penyambutan dan tarian serta makanan barganti-gantian menyambut kedatangan para tamu. Terlihat beberapa wisatawan manca negara juga datang untuk melihat prosesi ini.
Prosesi Rambu Solo belum berakhir dan entah sampai berapa hari lagi baru berakhir namun saya menginggalkan temapt ini untuk menuju tempat berikutnya.
Berikutnya adalah Lemo. Adalah tempat pemakaman berbentuk dinding gua. Sama seperti di tempat lainnya di Toraja, di tempat ini pun terlihat patung Tao Tao yang bentuknya lebih halus dan lebih menyerupai orang yang dimakamkan di tempat ini.
Tempat terakhir yang saya kunjungi adalah Londa. Masih tempat pemakaman, namun kali ini pemakaman berupa dinding tebing yang tinggi. Entah bagaimana menaikkan jenazah untuk disimpan di dinding yang tinggi itu. Pastinya diperlukan kerjasama dan kekompakan dari orang-orang yang terlibat pada pemakaman. Jika di tempat lain Tao Tao memakai baju yang dipakai pada saat jenazah masih hidup, di Londa saya temui Tao Tao yang memakai pakaian dengan warna tertentu yaitu merah, kuning dan putih.
Sekitar jam 15.00 WITA saya selesai berkeliling sebagian Tana Toraja dan mengunjungi beberapa tempat pemakaman. Mengisi waktu sebelum kembali ke Makassar dengan bus malam, saya sempatkan untuk ke Makale dengan transportasi umum untuk melihat patung raksasa Lakipadada yang terletak di tengah kolam air.
editor : ardi













